Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya ASHUFA INSTITUTE: Esai
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2026

Kepahlawanan dalam Halaman Buku

 

Pada suatu sore yang hening, aku duduk memandangi rak buku kecil di ruang tamu—rak yang penuh dengan picture book berwarna-warni dan halaman-halaman yang sering kubuka bersama keponakanku. Buku-buku itu tak besar, tak tebal, dan tak pernah dianggap sebagai buku “benar-benar penting” oleh banyak orang dewasa. Namun di sanalah, dalam halaman-halaman penuh gambar, kertas, dan kata sederhana, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar hiburan: harapan. Harapan tentang sebuah bangsa yang melek bacaan, yang berpikir kritis, dan yang memahami dunia melalui imajinasi. Apa yang kurasakan itu sejatinya merupakan inti dari apa yang dikatakan dalam artikel Menjadi Pahlawan Literasi dengan Picture Book — bahwa di masa kini, menjadi pahlawan bukan berarti menenteng senjata, tetapi membawa obor pengetahuan ke ruang-ruang paling awal hidup anak-anak kita.

Dalam sejarah perjuangan bangsa kita, pahlawan diidentikkan dengan keberanian fisik dan pengorbanan nyawa. Mereka berlari di medan perang, menahan peluru, dan menegakkan kemerdekaan dengan darah dan keringat. Namun, zaman berubah. Tantangan kita hari ini bukan lagi penjajah yang menembaki dari luar, tetapi kebodohan, ketidakpedulian, dan minimnya akses terhadap pendidikan yang bermutu. Dalam ranah inilah—di ranah pikiran, bahasa, dan imajinasi—kita membutuhkan pahlawan baru. Mereka bukanlah mereka yang tampil di panggung besar atau muncul di berita; mereka adalah guru yang membacakan cerita, orang tua yang meluangkan waktu 15 menit setiap hari untuk anaknya, dan relawan di ruang-ruang komunitas literasi.

Picture book adalah salah satu alat revolusioner dalam perjuangan ini. Buku bergambar bukan sekadar kumpulan ilustrasi yang menarik atau teks singkat yang lucu—lebih dari itu, ia adalah jendela imajinasi yang membuka ruang bagi anak untuk melihat dunia, memahami emosi, dan mengembangkan kemampuan berbahasa mereka secara natural. Buku bergambar membantu anak mengenali huruf, memahami konteks, bahkan menangkap nilai-nilai moral—semua melalui kombinasi visual dan verbal yang harmonis. Tanpa disadari, setiap halaman yang dibaca bersama anak bukan hanya memperkaya kosakata mereka, tetapi juga membentuk cara berpikir serta cara memandang kehidupan.

Ketika kita membaca cerita tentang seorang tokoh kecil yang belajar berbagi, atau menelusuri ilustrasi dunia yang penuh warna bersama seorang anak, kita tidak sekadar membaca; kita menanam benih karakter. Dunia modern sering menuntut segalanya serba cepat—anak-anak diajak berinteraksi dengan gawai, video, dan permainan instan yang memang menarik tetapi minim tantangan berpikir kritis. Sementara itu, picture book dengan caranya yang lembut justru menawarkan kesempatan untuk berpikir, bertanya, dan berdiskusi. Nilai moral yang disampaikan lewat narasi bukan perintah yang menggurui, tetapi contoh nyata yang dipahami anak dari tindakan figur dalam cerita. Hal seperti ini sangat penting dalam pembentukan empati dan karakter yang kuat di masa depan.

Namun, membaca gambar bukanlah sekadar hiburan semata. Berbagai penelitian menunjukkan dampak signifikan dari kebiasaan ini terhadap perkembangan anak. Misalnya, kegiatan membaca buku bergambar secara rutin dapat meningkatkan kemampuan fonologis, pemahaman makna, serta minat baca anak di masa depan. Kebiasaan itu juga meningkatkan keterampilan belajar mereka ketika dibacakan bersama orang dewasa—sebuah hubungan sosial yang memperkaya pengalaman literasi anak. Dapatku bayangkan sendiri momen ketika keponakanku menunggu dengan antusias setiap kali aku membuka buku bergambar di sore hari. Mata kecil itu berbinar, dan suara kecilnya bertanya tentang setiap tokoh, warna, dan peristiwa. Dalam tanya jawab semacam inilah, bukan hanya keterampilan membaca yang dibangun, tetapi juga rasa percaya diri, rasa ingin tahu, bahkan kreativitas yang menjadi modal penting dalam hidup.

Apakah tugas ini mudah? Tentu tidak. Menjadi pahlawan literasi berarti konsisten—membacakan cerita tiap hari meski jadwal kita padat, menyediakan waktu berkualitas meski dunia digital selalu menggema, dan bersabar ketika anak-anak masih berusaha memahami setiap kata. Tetapi demikianlah hakikat perjuangan: bukan soal betapa hebat kita, tetapi seberapa tekun kita menanam perubahan kecil yang bertumbuh menjadi sesuatu besar. Buku-buku kecil itu—yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang—justru merupakan alat revolusi pendidikan. Mereka seperti obor kecil yang menerangi pikiran anak, menuntun mereka ke jalan memahami dunia sebelum mereka benar-benar memasukinya.

Dalam refleksi akhir ini, kita mungkin perlu bertanya: apakah kita sudah menjadi pahlawan literasi bagi anak-anak di sekitar kita? Sudahkah kita membaca bersama mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil yang tampaknya sederhana, atau menyediakan waktu untuk menumbuhkan kebiasaan berpikir yang mendalam? Menjadi pahlawan literasi bukan hanya kewajiban guru atau pustakawan, tetapi tanggung jawab setiap warga negara yang percaya bahwa masa depan bangsa bukan diukur dari angka-angka statistik, tetapi dari kemampuan generasi mendatang membaca dunia dengan hati dan pikiran yang terbuka.

Akhir kata, mungkin cara menjadi pahlawan yang paling sederhana bukanlah dengan melawan musuh yang nyata, tetapi melawan kebodohan dan ketidakpedulian satu halaman cerita demi satu halaman cerita. Di situ, dalam setiap buku bergambar yang dibuka bersama seorang anak, kita menemukan cita-cita besar: generasi yang tidak hanya pandai membaca, tetapi juga pandai berpikir, merasa, dan bertindak demi masa depan yang lebih baik

Merdeka Belajar: Tentang Kebebasan yang Bertanggung Jawab

 

Sering kali kita mengucapkan “Merdeka Belajar” seperti sebuah slogan yang telah selesai maknanya. Ia dipajang di spanduk, diulang dalam pidato, dan diringkas dalam kebijakan. Namun, jika kita menoleh ke belakang—kepada Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa—kita akan menemukan bahwa kemerdekaan dalam belajar bukanlah perkara administratif, melainkan persoalan kebudayaan dan kemanusiaan.

Ki Hajar tidak memulai pendidikan dari ruang kelas, tetapi dari pandangan tentang manusia. Bagi beliau, manusia bukanlah bejana kosong yang harus diisi, melainkan makhluk hidup yang tumbuh. Karena itu, pendidikan tidak boleh membekukan kebudayaan, tetapi justru menggerakkannya. Asas kebudayaan Taman Siswa menunjukkan bahwa kebudayaan bukan benda museum—ia hidup, berubah, dan bergerak mengikuti zaman. Pendidikan yang sejati bukan menjaga masa lalu agar tetap utuh, melainkan menuntun masa lalu agar relevan bagi masa depan.

Di sini, Merdeka Belajar menemukan fondasi filosofisnya: kebebasan yang berakar pada kebudayaan. Bebas, tetapi tidak tercerabut. Progresif, tetapi tidak kehilangan arah. Pendidikan menjadi sarana transformasi—bukan hanya bagi individu, tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan.

Namun Ki Hajar tidak pernah membayangkan kebebasan yang liar. Ia menegaskan prinsip tertib dan damai yang abadi. Kebebasan, dalam pandangannya, hanya bermakna jika hidup bersama tetap mungkin. Seseorang menjadi merdeka bukan dengan meniadakan yang lain, melainkan dengan berdialog dengannya. Inilah paradoks yang sering kita lupakan: kemerdekaan justru menuntut pengakuan atas batas, hukum, dan tanggung jawab sosial. Tanpa tertib dan damai, kebebasan berubah menjadi dominasi; pendidikan pun menjelma alat kekuasaan.

Lebih jauh, Ki Hajar melihat pendidikan sebagai usaha kebudayaan. Artinya, pendidikan tidak netral. Ia selalu berpihak—entah pada pembebasan atau pada penjinakan. Pendidikan yang tercerabut dari budaya lokal akan melahirkan manusia asing di tanahnya sendiri. Sebaliknya, pendidikan yang bertolak dari kebudayaan bangsa akan menumbuhkan manusia yang mengenali dirinya, sekaligus terbuka pada dunia. Di sinilah relevansi Merdeka Belajar dengan abad ke-21: otonomi pendidikan bukan berarti seragam dilepas, tetapi akar diperkuat.

Prinsip Tut Wuri Handayani memperlihatkan wajah pedagogi yang paling manusiawi. Guru tidak berdiri di depan sebagai komandan, melainkan di belakang sebagai penuntun. Ini bukan kelemahan otoritas, tetapi kedewasaan pedagogis. Mengajar berarti percaya bahwa setiap individu memiliki kodrat, potensi, dan jalan tumbuhnya sendiri. Tugas pendidik bukan mengindoktrinasi, melainkan menjaga agar kebebasan itu tidak kehilangan arah. Ironisnya, semboyan ini sering tinggal sebagai logo, sementara praktik pendidikan justru mengekang, menyeragamkan, dan membungkam kreativitas.

Bagi Taman Siswa, sekolah adalah taman. Taman bukan penjara. Di taman, kehidupan tumbuh secara alamiah, dengan perawatan, bukan paksaan. Anak tidak diisolasi dari dunia, melainkan diperkenalkan padanya dengan kasih dan tanggung jawab. Pendidikan, dalam arti ini, adalah proses pembebasan: membebaskan potensi dari magma yang terpendam, agar manusia menemukan dirinya sebagai makhluk berakal budi dan berperasaan.

Pada akhirnya, Merdeka Belajar bukanlah inovasi baru, melainkan ingatan yang dipanggil kembali. Ki Hajar Dewantara telah menanamkannya sejak 1922. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah konsep ini relevan, melainkan apakah kita sungguh berani memaknainya. Sebab kemerdekaan, baik dalam belajar maupun dalam hidup, selalu menuntut konsekuensi: berpikir, bertanggung jawab, dan terus memberi makna pada dunia.

Kamis, 08 Januari 2026

Virtual Gift dan Pendidikan Rasa

Di layar kaca Indosiar, tepuk tangan kini tak lagi sepenuhnya berwujud telapak. Ia menjelma angka, animasi, dan saldo dompet digital. Virtual gift—yang katanya bentuk apresiasi—perlahan menjadi bahasa baru dalam relasi antara penonton, peserta, dan industri hiburan. Di sinilah pendidikan patut berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya: apa yang sedang kita ajarkan tentang nilai?

Anak-anak dan remaja menonton tontonan ini bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai kurikulum kultural yang sunyi. Mereka belajar—tanpa kelas dan tanpa guru—bahwa ekspresi dukungan bisa dibeli, bahwa perhatian bisa diuangkan, dan bahwa popularitas memiliki harga satuan. Pendidikan, yang seharusnya menanamkan daya nalar dan kepekaan etik, sering kali datang terlambat untuk mengoreksi pelajaran tak tertulis semacam ini.

Virtual gift menggeser makna apresiasi dari rasa ke transaksi. Tepuk tangan tak lagi sekadar pengakuan, melainkan sinyal ekonomi. Dalam konteks pendidikan, ini mengandung bahaya laten: nilai prestasi tereduksi menjadi nilai nominal. Anak didik bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras tak lengkap tanpa imbalan instan, dan bahwa pengakuan sosial adalah sesuatu yang dapat “dibeli” alih-alih “diraih”.

Padahal sebenarnya yang paling berbahaya bukanlah kebisingan, melainkan kebiasaan yang tak lagi kita pertanyakan. Virtual gift bekerja tepat di wilayah itu—ia normal, lucu, dan tampak sepele. Namun di balik animasi warna-warni, ada pendidikan rasa yang pelan-pelan tumpul. Rasa empati diganti euforia sesaat; kepekaan diganti notifikasi.

Bukan berarti pendidikan harus memusuhi teknologi atau industri hiburan. Yang dibutuhkan justru pendidikan literasi kultural: mengajarkan anak membaca tontonan, bukan sekadar menontonnya. Sekolah dan keluarga perlu menjadi ruang tafsir—tempat bertanya mengapa sesuatu dihargai, bagaimana nilai dibentuk, dan siapa yang diuntungkan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan pada virtual gift, melainkan pada cara kita mendidik manusia untuk memaknai hadiah. Apakah ia sekadar uang yang bergerak cepat, atau tanda penghargaan yang lahir dari kesadaran dan rasa hormat. Jika pendidikan gagal menjawab ini, maka layar kaca akan terus mengajar sendirian—dan kita hanya bisa menepuk tangan, entah dengan telapak atau saldo digital.

Ketika Otak Mulai “Lembek”: Refleksi atas Brain Rot dan Negara yang Menyangga

 

Ada suatu ironi halus dalam cara kita menyebut kemajuan zaman: semakin cepat arus informasi mengalir, justru semakin sering kita kehilangan kapasitas untuk merenung. Fenomena brain rot—yang pada dasarnya adalah kemerosotan kemampuan kognitif akibat paparan konten digital instan—bukan sekadar istilah internet lucu belaka, tetapi sebuah gambaran yang tajam tentang bagaimana mental kita dibentuk oleh ritme layar yang tak henti-hentinya.

Anak-anak hari ini, yang idealnya sedang merangkai kata demi kata di buku pelajaran, justru lebih banyak menelan potongan gambar, suara, dan video yang bergerak cepat. Dalam hitungan menit, pikiran yang mestinya berlatih fokus, mengurai makna, dan memupuk ketekunan, kini terlatih pada kepuasan instan—reward dopamin sesaat yang membuat kerja batin yang lebih lambat terasa membosankan.

Dalam konteks ini, argumentasi tentang brain rot sepatutnya tidak hanya dipahami secara medis atau psikologis, tetapi juga secara sosial dan politik. Ketika kekhawatiran utama para orang tua dan psikolog adalah penurunan motivasi belajar, hilangnya kemampuan untuk membaca teks panjang, atau terganggunya ritme belajar yang mendalam, kita sedang menyaksikan sebuah kegagalan kolektif dalam membentuk ekosistem informasi yang sehat.

Negara berusaha hadir melalui Peraturan Pemerintah TUNAS sebagai respon terhadap ancaman digital ini. Regulasi semacam ini penting—bahkan mendesak—karena ruang digital bukan lagi sekadar area hiburan, melainkan arena pembentukan identitas dan kecenderungan mental generasi muda. Upaya negara untuk menyaring konten, melindungi anak dari pornografi, kekerasan, atau judi daring, jelas bukanlah sesuatu yang bisa ditunda. Tetapi pertanyaan lebih mendasar muncul: apakah kita terlalu terburu-buru meminta negara “mengatur ruang batin” anak, tanpa terlebih dahulu memperkuat kapasitas masyarakat itu sendiri untuk membimbing dan mendampingi?

Kita hidup dalam sebuah paradoks: teknologi menjanjikan keterhubungan dan kemudahan, tetapi sekaligus menjauhkan kita dari ritme reflektif yang dulu menjadi dasar pengalaman belajar. Ketika stimulasi visual menggantikan kerja lambat kognisi, ketika respon cepat menumpas pertanyaan panjang, kita kehilangan sesuatu yang tak terlihat tetapi sangat esensial: kemampuan untuk berpikir panjang. Dan di sinilah kritik paling tajam harus diarahkan—bukan hanya pada konten digital atau algoritma yang mengejar keterlibatan, tetapi pada struktur sosial yang membuat kita menerima pola konsumsi informasi semacam itu sebagai “normal”.

Regulasi seperti PP TUNAS bisa menjadi penyangga, tetapi tanpa refleksi budaya yang lebih dalam, kita hanya menambal sebuah dinding yang terus ditembusi oleh arus digital yang lebih kuat lagi. Pendidikan, keluarga, dan komunitas harus menjadi ruang di mana anak tidak hanya dilindungi dari konten berbahaya, tetapi juga dilatih untuk mengalami kesunyian, ketekunan, dan kontekstualitas—bentuk-bentuk belajar yang tak bisa disediakan oleh layar. Sebab, di ujungnya, masalah brain rot bukan sekadar tentang otak yang “lembek”, tetapi tentang cara kita sebagai masyarakat memilih apa yang kita prioritaskan dalam perjalanan menuju masa depan.

Kamis, 25 Desember 2025

Ketika Pendidikan Terombang-ambing Kebijakan

 

Di saat aku membuka halaman-halaman Edupolicy: Riset Kebijakan Pendidikan, aku merasa digiring pada sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi berat: apa arti pendidikan yang sejati di tengah badai kebijakan yang terus berubah? Buku ini memandu pembaca memahami bahwa kebijakan pendidikan bukan sekadar dokumen formal atau jargon politik — ia adalah kontrak sosial antara generasi sekarang dan yang akan datang, sebuah janji yang tak boleh dipatahkan.

Kebijakan pendidikan, sebagaimana dirangkai dalam buku ini, idealnya lahir dari riset yang kuat, bukti yang nyata, serta perhatian terhadap konteks sosial yang terus berubah. Ia tidak boleh menjadi sekadar reaksi sementara terhadap isu publik atau wacana politis yang sesaat. Riset kebijakan pendidikan menuntut kita untuk membaca lebih dalam — bukan hanya angka statistik, tapi kisah anak di pelosok yang masih jauh dari akses layak, bukan hanya kurikulum terbaru, tapi tentang bagaimana kurikulum itu benar-benar berdampak pada literasi dan kompetensi anak didik.

Namun kenyataannya, ketika aku menengok ke media dan ruang diskusi publik, ada jurang antara harapan dan praktik. Kebijakan sering berubah setiap kali pucuk pimpinan berganti. Program jabatan menempel seperti stiker baru, sementara tantangan mendasar — seperti pemerataan kualitas pendidikan, penguatan literasi dasar, atau ketimpangan akses — tetap utuh dan seringkali tak tersentuh dengan serius.

Aku teringat pada kata-kata buku ini tentang pentingnya riset sebagai “fondasi pembuatan kebijakan pendidikan yang adaptif, inklusif, dan visioner”. Dalam dunia yang semakin data-driven, riset bukan hanya kebutuhan akademik, tapi landasan moral: kita punya kewajiban memahami realita sebelum merancang jawaban. Dengan riset, kita bisa mendengar suara guru yang lelah karena beban administratif; kita bisa melihat data yang menunjukkan di mana literasi masih lemah; kita bisa memahami mengapa perubahan kurikulum berulang kali tidak serta-merta memperbaiki kualitas belajar mengajar.

Refleksi ini menegaskan sebuah keyakinan: pendidikan yang sejati bukanlah bangunan megah, bukan pula buku pelajaran terbaru. Pendidikan adalah perjalanan kesabaran, dan kebijakan pendidikan adalah kompasnya. Kita bisa memiliki kompas yang canggih — tetapi jika kompas itu terus diganti setiap pemimpin baru datang, maka tujuan besar seperti keadilan pendidikan dan pembelajaran bermakna akan selalu menjauh.

Sebagai peneliti muda (atau sebagai siapa pun yang hidup di zaman ini), aku sadar bahwa kita harus berani berdialog antara riset dan praktik, antara teori dan pengalaman nyata di ruang kelas. Pendidikan bukan sekadar tentang mencapai angka dalam survei internasional, tetapi tentang membangun ruang belajar yang memberi ruang tumbuh pada setiap anak — bukan robot nilai, tetapi manusia penuh rasa ingin tahu. Maka pekerjaan kita bersama bukan hanya menulis kebijakan yang baik, tetapi memastikan kebijakan itu lahir dari realitas, bukan dari citra politik sesaat.

Dan di sinilah letak keyakinanku: riset bukan hanya alat. Ia adalah tindakan cinta terhadap masa depan — masa depan yang kita pinjam dari mereka yang akan mewarisi dunia ini. Dalam setiap kebijakan yang ditulis, semoga ada gema dari suara anak-anak yang belajar, bukan gema dari kepentingan sesaat. Itu yang membuat pendidikan bukan sekadar sistem, tetapi sebuah perjuangan.

Rabu, 17 Desember 2025

Gaji Bisa Dibayar, Dedikasi Tak Pernah Bisa Dibeli

                                                                                      

Pendidikan yang kuat hanya dapat terwujud melalui guru-guru yang berdedikasi. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan klise. Namun justru pada kesederhanaannya, ia menyimpan kenyataan paling keras dalam dunia pendidikan: bahwa sistem boleh megah, kurikulum boleh berganti, teknologi boleh canggih, tetapi semuanya runtuh bila guru kehilangan dedikasi.

Sekolah sering dibicarakan sebagai bangunan, sebagai institusi, sebagai angka-angka dalam laporan. Kita mendebatkan akreditasi, asesmen, dan peringkat. Namun jarang kita duduk sejenak dan bertanya: siapa yang setiap pagi benar-benar hadir di hadapan anak-anak itu? Jawabannya selalu sama: guru. Bukan kebijakan. Bukan aplikasi. Bukan slogan.

Guru yang berdedikasi tidak selalu yang paling fasih berbicara tentang teori pendidikan. Ia justru kerap hadir dalam wujud yang sunyi: datang lebih awal, pulang paling akhir, membaca ulang catatan muridnya di rumah, atau menahan lelah demi memastikan seorang anak tidak tertinggal sendirian. Dedikasi tidak selalu tampak heroik; ia lebih sering berupa kesetiaan yang berulang dan melelahkan.

Dalam dunia yang serba cepat dan instan, dedikasi adalah sikap yang melawan arus. Guru diminta beradaptasi dengan teknologi, tuntutan administratif, dan perubahan kurikulum, namun pada saat yang sama tetap menjaga sisi paling manusiawi dari pendidikan: perhatian, kesabaran, dan ketulusan. Di titik inilah pendidikan diuji—bukan pada kecanggihan alatnya, melainkan pada daya tahan nurani para pendidiknya.

Kita kerap lupa bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan perjumpaan batin. Seorang murid bisa lupa rumus, tetapi ia akan selalu ingat guru yang percaya padanya ketika ia nyaris menyerah. Dedikasi guru bekerja diam-diam, membentuk karakter tanpa perlu pidato panjang. Ia menanam nilai melalui teladan, bukan instruksi.

Pendidikan yang kuat, pada akhirnya, bukanlah pendidikan yang paling ramai dipromosikan, melainkan yang paling setia dirawat. Dan perawatan itu bernama dedikasi. Selama masih ada guru yang memandang mengajar sebagai panggilan, bukan sekadar kewajiban, selama itu pula harapan pendidikan akan tetap hidup—meski dalam keterbatasan.

Maka jika kita sungguh-sungguh ingin membangun pendidikan yang kokoh, barangkali yang paling pertama harus kita jaga bukanlah sistemnya, melainkan manusianya. Sebab pendidikan, seperti kehidupan, berdiri bukan di atas kecanggihan, tetapi di atas kesetiaan. 

Selasa, 16 Desember 2025

Bahasa Ibu dan Anak-Anak yang Hampir Kehilangan Rumah

 

Barangkali kita terlalu sering mengira bahasa hanya soal alat komunikasi. Padahal, bahasa—terutama bahasa daerah—lebih mirip rumah: tempat seseorang pulang, beristirahat, dan mengenali dirinya sendiri. Ketika Wakil Menteri Stella mengajak anak-anak bercerita dalam bahasa daerah, ajakan itu terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak kejujurannya: hal-hal penting dalam hidup sering hadir tanpa gegap gempita.

Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan seragam. Bahasa yang mereka dengar di layar gawai sering kali bukan bahasa yang dipakai neneknya di dapur, atau kakeknya di beranda. Bahasa ibu pelan-pelan berubah menjadi bahasa asing—dipahami, mungkin, tetapi jarang dipakai. Ia ada, namun seperti perabot lama yang dibiarkan berdebu.

Bercerita dalam bahasa daerah bukan sekadar latihan berbahasa. Ia adalah latihan menjadi manusia yang berakar. Dalam cerita, anak belajar menyusun dunia: siapa yang baik, siapa yang licik, apa yang boleh, dan apa yang tabu. Bahasa daerah menyimpan cara pandang yang khas—kadang lebih halus, kadang lebih tegas—tentang bagaimana seseorang harus bersikap pada orang lain dan pada hidup itu sendiri.

Kita kerap bicara tentang literasi dengan nada serius: skor, peringkat, dan laporan. Padahal, sebelum literasi menjadi urusan statistik, ia adalah pengalaman batin. Seorang anak yang berani bercerita dalam bahasa daerah sedang belajar percaya pada suaranya sendiri. Ia belajar bahwa kisahnya layak didengar, meski disampaikan dengan kata-kata yang tak selalu hadir di buku pelajaran.

Ada pula dimensi yang sering kita lupakan: kedekatan emosional. Bahasa daerah biasanya adalah bahasa pertama yang dipakai untuk menenangkan, menegur, atau bercanda. Ketika anak bercerita dengan bahasa itu, ia sebenarnya sedang membuka pintu ke ruang keluarga dan komunitas. Di sana, cerita bukan hanya milik anak, melainkan milik bersama—ditimpali, dikoreksi, ditertawakan, lalu dikenang.

Di tengah kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah, ajakan ini terasa seperti menyalakan lampu kecil di lorong panjang. Ia mungkin tidak langsung mengubah segalanya. Namun cahaya kecil sering kali cukup untuk mengingatkan kita: masih ada jalan pulang.

Pada akhirnya, mengajak anak-anak bercerita dalam bahasa daerah adalah cara halus untuk berkata bahwa kemajuan tidak harus memutus ingatan. Bahwa menjadi modern tidak berarti menjadi amnesia. Dan bahwa masa depan, jika ingin kokoh, sebaiknya dibangun dari kata-kata yang pernah kita dengar saat pertama kali belajar memahami dunia.

Kamis, 11 Desember 2025

Bacaan Berkualitas Gratis (BBG)

Setiap kali saya mendengar orang-orang membicarakan soal Makan Bergizi Gratis yang sekarang menjadi jargon ramai itu, saya selalu teringat pada satu hal yang jauh lebih saya butuhkan: bacaan. Perut memang harus diisi, tetapi kepala yang kosong lebih berbahaya ketimbang lambung yang keroncongan. Lambung hanya mengeluh, sedangkan kepala yang kosong bisa menyesatkan siapa saja—termasuk pemiliknya sendiri.

Maka lahirlah angan-angan itu: Bacaan Berkualitas Gratis, sebuah utopia kecil yang keluar dari gagasan Gus Fayyadl Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Saya membayangkan  bahawa gagasan ini sebagai antitesis dari program makan bergizi gratis. Sebab jika MBG bertugas menyehatkan tubuh, BBG mungkin bisa menyehatkan kesadaran, menyuburkan pikiran, dan memberi gizi pada imajinasi yang sering kita abaikan dalam hiruk-pikuk hidup yang terburu-buru.

Dalam bayangan saya, BBG itu hadir seperti warung sederhana di pinggir jalan kampung. Tidak ada lemari pendingin berisi susu UHT atau roti-fortifikasi-omega-berapa-pun. Yang ada hanya rak kayu bersahaja berisi buku yang sudah agak kusam sampulnya, majalah lama yang aromanya seperti museum, dan beberapa koran daerah yang memuat berita-berita kecil tentang hidup orang kecil. Orang boleh datang, pilih bacaan, duduk, lalu membaca. Tidak ada absensi, tidak ada barcode, tidak ada petugas yang menatap curiga, dan tidak ada spanduk yang berlebihan.

Bahkan, dalam angan-angan yang lebih jauh, seorang anak SD bisa mampir setelah pulang sekolah, membuka buku cerita tentang petualangan seorang bocah melintasi sungai, lalu menghabiskan satu jam penuh tanpa paksaan apa pun—sebuah kemewahan yang bahkan banyak orang dewasa kini tak lagi sanggup menikmati.

BBG, bagi saya, bukan program. Ia lebih mirip semangat yang diwariskan oleh orang-orang tua kita dulu: ketika salah satu tetangga membeli koran, seluruh kampung bisa membaca isinya dengan cara pinjam bergiliran. Ketika ada satu buku cerita tersesat dari pameran buku murah, anak-anak membacanya sampai halaman-halamannya kusut. Bacaan disebarkan bukan karena instruksi, tetapi karena kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

Sekarang, bacaan justru sering terasa seperti barang mewah. Buku dinilai dari ketebalan dan harga, bukan dari isi. Bacaan bagus menjadi tren sesaat, lalu tenggelam oleh ribuan konten yang lebih menarik karena hanya perlu digulir dengan ibu jari. Saya sering membayangkan, kalau para pendiri bangsa ini melihat keadaan hari ini, mungkin ia akan tersenyum getir sambil berkata, “Manusia modern punya seluruh dunia di saku celananya, tapi mereka jarang membacanya.”

Itulah sebabnya BBG terasa penting. Bahkan lebih mendesak daripada MBG—karena tubuh yang kenyang tanpa pikiran yang tercerahkan hanya menghasilkan manusia yang kuat tetapi mudah digiring. Negara ingin perut warga sehat; saya ingin pikiran warga waras. Dua hal yang sayangnya tidak selalu berjalan beriringan.

BBG bukan untuk membuat orang pintar. Tidak. Bacaan berkualitas tidak menjanjikan kecerdasan instan. Ia hanya membuka sedikit jendela di dalam diri kita—kadang cukup untuk melihat hal-hal yang sebelumnya gelap. Kadang cukup untuk menyadarkan bahwa dunia lebih luas daripada yang kita kira. Kadang cukup untuk membuat seseorang berkata, “Oh, jadi hidup tak harus sesempit ini.”

Dan bukankah itu sudah sangat banyak?

Pada akhirnya, saya percaya, sebuah bangsa tidak akan tumbuh karena perutnya kenyang saja, tetapi karena pikirannya punya ruang untuk berjalan-jalan. Karena warganya membaca bukan hanya diktat pelajaran, melainkan juga cerita, pemikiran, imajinasi, dan renungan. Karena mereka memaknai hidup tidak sekadar dari layar yang menyala, tetapi dari halaman yang diam menunggu disentuh.

Jika makan bergizi gratis adalah hadiah untuk tubuh, maka bacaan berkualitas gratis adalah hadiah untuk jiwa. Saya tidak tahu mana yang lebih penting. Tapi saya tahu, seandainya kedua-duanya bisa diberikan tanpa pamrih, barangkali bangsa ini akan tumbuh dengan kepala yang lebih terang dan hati yang lebih lapang.

Dan mungkin, siapa tahu, dari sebuah rak buku sederhana di pinggir kampung, lahir seseorang—entah anak kecil atau orang dewasa—yang suatu hari berkata: “Saya berubah bukan karena bantuan yang mengenyangkan perut, tapi karena sebuah bacaan gratis yang mengenyangkan pikiran.”

 

Ironi Tragedi Mobil MBG

Dari kota sampai pelosok desa, mobil bertuliskan SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—sering lewat pelan seperti adegan dari iklan yang tidak selesai diproduksi. Catnya mengilap, stikernya rapi, warnanya mencolok, seperti ingin meyakinkan siapa saja bahwa kebaikan sedang bergerak. Anak-anak biasanya melambaikan tangan. Orang dewasa mengangguk, pura-pura percaya bahwa sesuatu yang baik memang sedang dikerjakan negara.

Tapi pada pagi tadi yang lembab, mobil itu bukan lagi simbol harapan. Ia berubah menjadi berita: kecelakaan, korban meninggal, dan serangkaian pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun. Seperti biasanya, tragedi datang tanpa menunggu kita sempat menata narasi.

Yang ironis bukan hanya kecelakaan itu sendiri, melainkan cara kita menghadapinya. Hampir tak ada yang bertanya mengapa mobil itu harus melaju terburu-buru. Tak ada yang menyoal apakah semua tenaga kerja benar-benar dilatih atau hanya “dikerahkan”. Kita begitu tergesa-gesa bersedih, hingga lupa menyisir alasan kenapa kesedihan ini datang.

Di sejumlah media sosial, pesan kekhawatiran, belum kering air mata kita memikirkan saudara-saudara kita yang tertimpa banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera, kini harus jatuh lagi korban jiwa anak-anak—pula. Foto dan video mobil MBG itu dibagikan berkali-kali, setiap orang menjadi kurator tragedi. Ada yang mengirim doa, ada yang menyalahkan takdir, ada pula yang menyisipkan komentar bahwa program ini tetap harus dipuji, seakan-akan kritik terhadap tragedi berarti pembatalan niat baik.

Padahal, yang patah bukan hanya bodi mobilnya, tapi kepercayaan yang selama ini kita bangun dengan rapuh. Kita percaya program itu dibuat demi anak-anak. Kita ingin percaya bahwa slogan-slogan itu bukan sekadar cat di sisi mobil. Tapi setiap tragedi mengingatkan kita pada hal yang selama ini kita hindari: bahwa program besar sering ditopang oleh sistem kecil yang tidak pernah dipikirkan matang.

Seseorang pernah berkata, “Niat baik tidak cukup ketika nyawa menjadi taruhannya.” Tapi kalimat semacam itu tidak populer. Ia tidak manis untuk baliho. Tidak enak untuk dikutip dalam pidato. Kita lebih suka kalimat-kalimat lembut yang membuat kita merasa sedang melakukan sesuatu yang besar, meski sebenarnya kita hanya sedang memutar roda yang sama—roda yang tidak pernah diperiksa remnya, tidak pernah dicek bannya, dan tidak pernah diperbaiki arah lajunya.

Di tengah semua itu, saya jadi ingat percakapan dengan seorang sopir angkot bertahun-tahun lalu. “Yang bikin celaka bukan jalan yang rusak,” katanya sambil menyalakan rokok, “tapi orang yang pura-pura tidak melihat kerusakannya.” Saat itu saya hanya mengangguk. Kini, ucapan itu kembali seperti tamparan kecil yang tidak ingin saya terima, tapi juga tidak bisa saya tolak.

Tragedi mobil MBG adalah ironi paling telanjang: sebuah kendaraan yang dirancang untuk memberi kehidupan justru merenggutnya. Dan kita, seperti biasa, sibuk merapikan narasi sambil berharap semua orang cepat lupa.

Namun lupa adalah kemewahan yang berbahaya. Sebab jika kita terus melupakannya, mobil-mobil serupa akan tetap melaju, dengan sopir yang sama lelahnya, dengan manajemen yang sama tergopohnya, dan dengan harapan yang dipoles berlebihan hingga kehilangan bentuknya.

Mungkin yang kita butuhkan bukan mobil baru atau slogan baru, melainkan kebiasaan yang sederhana: berhenti sejenak, memeriksa semuanya, dan mengakui bahwa kebaikan tidak boleh menyisakan celah untuk kelalaian.

Kita selalu bangga menyebut program ini sebagai langkah maju. Tetapi tragedi itu mengingatkan kita, dengan cara yang paling pahit, bahwa melaju terlalu cepat tanpa melihat jalan bukanlah kemajuan. Itu hanya cara baru untuk menabrak.