Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya ASHUFA INSTITUTE: Resensi
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2026

Antara Kesadaran Reflektif Guru dan Bahaya Reduksi Akademik

JudulClassroom Action Research
PenulisDr. Alek, M.Pd.
Tahun Terbit: 2016

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagaimana dipaparkan dalam buku Classroom Action Research menegaskan satu gagasan penting: guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, melainkan subjek intelektual yang mampu merefleksikan, menilai, dan memperbaiki praktik pembelajarannya sendiri secara sistematis. Dalam kerangka ini, PTK diposisikan sebagai jembatan antara teori pendidikan dan realitas kelas. Namun, dalam praktik pendidikan di Indonesia, PTK kerap mengalami penyempitan makna—dari instrumen reflektif menjadi sekadar kewajiban administratif.

Buku tersebut menekankan bahwa PTK lahir dari kesadaran kritis terhadap masalah nyata pembelajaran. Masalah itu tidak dicari-cari, melainkan dialami langsung oleh guru: rendahnya partisipasi siswa, metode yang tidak efektif, atau ketidaksesuaian strategi pembelajaran dengan karakter peserta didik. Di sinilah PTK menunjukkan nilai filosofisnya. Ia bukan penelitian “tentang” kelas, tetapi penelitian “di dalam” dan “untuk” kelas. Guru bertindak sekaligus sebagai praktisi dan peneliti, sebuah posisi epistemologis yang menuntut kejujuran reflektif dan keberanian mengakui kelemahan pedagogis.

Namun, secara kritis perlu diakui bahwa praktik PTK dewasa ini sering kehilangan ruh tersebut. Banyak guru melakukan PTK bukan karena dorongan refleksi, tetapi karena tuntutan kenaikan pangkat, sertifikasi, atau kelengkapan administrasi. Akibatnya, PTK direduksi menjadi laporan teknis yang meniru pola baku: dua siklus, peningkatan persentase nilai, dan kesimpulan normatif bahwa “metode X dapat meningkatkan hasil belajar siswa”. Pola semacam ini bertentangan dengan semangat buku Classroom Action Research yang menekankan proses refleksi berkelanjutan, bukan sekadar hasil numerik.

Buku ini secara implisit mengkritik pandangan positivistik yang terlalu menekankan angka dan generalisasi. PTK justru berpijak pada konteks, kekhususan, dan proses. Keberhasilannya tidak selalu diukur dari lonjakan nilai tes, melainkan dari perubahan kualitas interaksi kelas, meningkatnya keaktifan siswa, atau tumbuhnya kesadaran belajar. Dengan demikian, PTK seharusnya dipahami sebagai penelitian praksis yang bersifat emansipatoris—membebaskan guru dari ketergantungan buta pada teori yang sering kali tidak kontekstual.

Secara argumentatif, kekuatan PTK terletak pada siklus reflektifnya: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus ini mengajarkan guru untuk berpikir ilmiah tanpa harus terjebak dalam kompleksitas metodologi akademik yang kaku. Buku Classroom Action Research menunjukkan bahwa kesahihan PTK bukan terletak pada kerumitan instrumen, tetapi pada konsistensi refleksi dan kejujuran analisis. Guru diajak untuk bertanya: mengapa tindakan ini berhasil? Mengapa yang lain gagal? Apa yang perlu diperbaiki? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membangun budaya berpikir kritis dalam dunia pendidikan.

Namun demikian, PTK juga tidak boleh diposisikan sebagai solusi tunggal bagi problem pendidikan. Buku ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa PTK memiliki keterbatasan: sifatnya lokal, kontekstual, dan tidak dimaksudkan untuk generalisasi luas. Ketika PTK dipaksakan menjadi standar tunggal penilaian profesionalisme guru, justru terjadi paradoks. Guru yang kreatif tetapi tidak menulis PTK dianggap tidak profesional, sementara guru yang sekadar menyalin format PTK dinilai berhasil. Di titik ini, PTK kehilangan daya transformasinya dan berubah menjadi ritual akademik.

Refleksi paling penting dari buku ini adalah pesan bahwa PTK seharusnya membangun identitas guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. Guru bukan pemilik kebenaran final, melainkan subjek yang terus belajar dari praktiknya sendiri. PTK bukan sekadar metode penelitian, melainkan etos berpikir: kritis terhadap rutinitas, reflektif terhadap kegagalan, dan terbuka terhadap perubahan. Jika dimaknai demikian, PTK dapat menjadi fondasi lahirnya pendidikan yang humanis dan kontekstual.

Sebaliknya, jika PTK terus dipraktikkan secara formalistik, ia justru memperkuat budaya semu dalam pendidikan—di mana laporan lebih penting daripada pembelajaran, dan data lebih dihargai daripada makna. Oleh karena itu, tantangan utama bukan terletak pada penguasaan teknis PTK, tetapi pada keberanian moral untuk mengembalikannya pada tujuan awal sebagaimana ditegaskan dalam buku Classroom Action Research: memperbaiki pembelajaran melalui refleksi kritis dan tindakan nyata.

Pada akhirnya, PTK adalah cermin. Ia bisa memantulkan wajah pendidikan yang jujur dan reflektif, atau justru memantulkan bayangan kepalsuan akademik. Pilihannya ada pada kesadaran guru dan sistem pendidikan yang menaunginya.

Rabu, 24 Desember 2025

Menakar Arah Anggaran Pendidikan Nasional

Resensi Buku

Judul:

Education Budget Tracking Report 2024: Menakar Arah dan Dampak Anggaran Pendidikan

Jenis Buku:

Laporan riset kebijakan / kajian anggaran pendidikan

Tema Utama:

Transparansi, efektivitas, dan keadilan pengelolaan anggaran pendidikan nasional

Laporan Education Budget Tracking Report 2024 menghadirkan potret kritis pengelolaan anggaran pendidikan Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan kualitas pembelajaran. Di saat anggaran pendidikan terus mengalami kenaikan, laporan ini mempertanyakan satu hal mendasar: sejauh mana belanja pendidikan benar-benar berdampak pada mutu hasil belajar peserta didik.

Buku ini mengulas struktur anggaran pendidikan nasional, baik di tingkat pusat maupun daerah, serta mengaitkannya dengan capaian pendidikan seperti literasi, numerasi, dan pemerataan layanan. Temuan penting laporan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya alokasi anggaran dan kualitas pembelajaran yang dihasilkan. Anggaran pendidikan masih didominasi belanja rutin dan administratif, sementara investasi langsung pada proses belajar yang bermakna relatif terbatas.

Secara kritis, laporan ini menegaskan bahwa masalah pendidikan Indonesia bukan terletak pada minimnya anggaran, melainkan pada orientasi kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada peserta didik. Anggaran kerap dipahami sebagai kewajiban konstitusional, bukan sebagai instrumen strategis untuk membangun kapasitas berpikir, karakter, dan daya saing generasi muda. Kondisi ini relevan dengan fenomena rendahnya capaian akademik nasional, termasuk hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang mencerminkan lemahnya efektivitas belanja pendidikan.

Dari sisi reflektif, buku ini mengajak pembaca untuk melihat pendidikan sebagai ekosistem manusiawi. Anggaran yang besar tidak akan bermakna tanpa relasi pembelajaran yang sehat antara guru, siswa, sekolah, dan masyarakat. Ketika kebijakan fiskal terlepas dari realitas ruang kelas, maka pendidikan berisiko menjadi sistem mahal namun rapuh.

Secara argumentatif, Education Budget Tracking Report 2024 mendorong reorientasi kebijakan anggaran pendidikan. Negara perlu menggeser fokus dari penyerapan anggaran menuju dampak nyata pada kualitas belajar, memperkuat belanja untuk peningkatan kompetensi guru, pembelajaran mendalam, serta penguatan literasi dan numerasi. Transparansi dan partisipasi publik juga menjadi prasyarat penting agar anggaran pendidikan dapat diawasi dan diarahkan secara kolektif.

Sebagai laporan kebijakan, buku ini relevan dan strategis bagi pembuat kebijakan, akademisi, dan pemerhati pendidikan. Pesan utamanya jelas: tanpa keberanian mengubah arah pengelolaan anggaran, pendidikan Indonesia akan terus berjalan dengan biaya tinggi namun hasil yang belum sepadan. Laporan ini layak dibaca sebagai bahan refleksi sekaligus pijakan untuk membangun pendidikan nasional yang lebih berkeadilan dan bermakna.

Selasa, 16 Desember 2025

Kegagalan bukanlah musuh belajar, melainkan pintu masuk menuju pemahaman

How Children Fail – John Holt

Judul: How Children Fail
Penulis: John Holt
Tahun Terbit: 1964 (edisi revisi 1982)
Genre: Nonfiksi, Pendidikan
Jumlah Penjualan: Lebih dari satu juta eksemplar

Buku How Children Fail merupakan salah satu karya klasik dalam dunia pendidikan kritis. Melalui pengalaman panjangnya sebagai guru dan peneliti, John Holt mengajukan gugatan mendasar terhadap sistem sekolah formal. Buku ini tidak menawarkan metode pengajaran baru secara teknis, melainkan mengajak pembaca mempertanyakan asumsi paling dasar tentang belajar, mengajar, dan makna kecerdasan itu sendiri.

Gagasan sentral buku ini sederhana namun radikal: anak-anak pada dasarnya mencintai belajar, tetapi membenci diajar. Holt meyakini bahwa setiap anak memiliki kecerdasan alami. Namun, kecerdasan itu perlahan tumpul karena sistem sekolah memaksa anak untuk mengejar jawaban yang benar, nilai, dan persetujuan guru, alih-alih memahami proses berpikir dan makna pengetahuan.

Holt menggambarkan bagaimana anak-anak di kelas tidak sungguh-sungguh berpikir, melainkan bermain strategi. Mereka membaca bahasa tubuh guru, menebak-nebak jawaban, menghindari risiko salah, dan belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang memalukan. Sekolah, menurut Holt, secara sistematis menumbuhkan ketakutan terhadap kesalahan—padahal justru dari kesalahanlah pembelajaran sejati bermula.

Dalam konteks ini, anak berubah dari thinker menjadi producer: bukan lagi penjelajah makna, melainkan penghasil jawaban. Mereka cepat melupakan kesalahan, tidak pernah menelusuri sebabnya, dan akhirnya kehilangan rasa ingin tahu alami yang sebelumnya begitu kuat.

Salah satu kritik tajam Holt diarahkan pada praktik penilaian dan ujian. Tes pencapaian akhir tahun, menurutnya, tidak mencerminkan pembelajaran yang sesungguhnya. Guru dan siswa sama-sama terjebak dalam rutinitas “menghafal demi ujian”, sementara pengetahuan yang tidak lahir dari minat dan pengalaman nyata akan segera menguap setelah ujian selesai.

Dalam pembelajaran matematika, Holt menunjukkan bahwa anak-anak mungkin mampu menghafal algoritma, tetapi gagal memahami konsep. Ketika dihadapkan pada persoalan konkret, pengetahuan mereka tidak dapat diterapkan. Ini menunjukkan bahwa belajar di sekolah sering kali bersifat dangkal dan mekanis.

Holt juga menyoroti praktik hukuman fisik, penghinaan, dan pujian berlebihan. Semua itu, baginya, sama-sama merampas otonomi belajar anak. Bahkan pujian, menurut Holt, dapat menghilangkan kegembiraan anak dalam menemukan kebenaran secara mandiri.

Kekuatan utama How Children Fail terletak pada kejujuran dan kedalaman refleksinya. Holt menulis berdasarkan pengalaman nyata di ruang kelas, sehingga argumennya terasa hidup dan relevan. Bahasanya lugas, penuh contoh konkret, dan mudah dipahami, bahkan oleh pembaca non-akademik.

Buku ini juga berani menggugat otoritas guru dan sistem sekolah tanpa terjebak pada nada menggurui. Holt tidak menempatkan guru sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari sistem yang juga terjebak dalam logika yang keliru.

Sebagai catatan, buku ini tidak banyak menawarkan solusi praktis yang sistematis. Kritik Holt sangat kuat, tetapi pembaca yang mengharapkan panduan langkah demi langkah untuk mengubah praktik pembelajaran mungkin akan merasa kurang terpuaskan. Selain itu, konteks sekolah Amerika pada era 1960-an membuat beberapa contoh perlu ditafsirkan ulang agar relevan dengan konteks pendidikan masa kini.

How Children Fail adalah buku yang mengguncang cara pandang tentang pendidikan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan bukanlah musuh belajar, melainkan pintu masuk menuju pemahaman. Buku ini sangat layak dibaca oleh guru, orang tua, mahasiswa pendidikan, dan siapa pun yang peduli pada masa depan pembelajaran yang lebih manusiawi.

Lebih dari setengah abad sejak pertama diterbitkan, gagasan John Holt tetap terasa segar—dan mungkin, justru semakin relevan—di tengah pendidikan modern yang masih kerap terjebak pada angka, nilai, dan jawaban benar semata. 

Senin, 15 Desember 2025

Kesederhanaan yang Tidak Pernah Sederhana


Biodata Buku : 
Judul: : SEDERHANA TAPI DAHSYAT: Langkah  Sederhana yang Akan Membuat Anda  Menjadi Milyarder
Pengarang : Mustofa Romdloni 
Penerbit : Kreasi Kata 
Terbit : Juni 2013 
Genre : Motivasi / Bisnis 
ISBN - 13 : 978-602-97066-4-2 
Jumlah halaman : 190 halaman 
Harga : Rp. 39.500,- 

Ada buku yang dibaca untuk menambah pengetahuan, ada pula buku yang dibaca untuk menata ulang batin. Sederhana Tapi Dahsyat karya Mustofa Bisri—atau yang akrab disapa Gus Mus—tergolong jenis kedua. Ia tidak menawarkan teori besar, tidak pula memamerkan istilah rumit. Justru dari kesederhanaannya itulah daya gedornya lahir.

Buku ini terasa seperti obrolan pelan di serambi pesantren. Tidak menggurui, tidak pula memaksa pembaca untuk sepakat. Gus Mus menulis sebagaimana ia hidup: jujur, bersahaja, dan penuh welas asih. Ia tidak sedang menunjukkan betapa alim dirinya, melainkan mengajak pembaca bercermin—sering kali dengan rasa tidak nyaman, tetapi perlu.

Dalam halaman-halamannya, kita diajak menyadari satu hal yang kerap kita lupakan: bahwa agama bukan soal tampilan luar, melainkan kerja sunyi di dalam diri. Gus Mus tidak sibuk menghakimi kesalahan orang lain. Ia justru lebih keras pada dirinya sendiri. Di situlah letak kejujurannya. Ia menulis bukan dari menara gading, melainkan dari luka, kegelisahan, dan keinsafan seorang manusia biasa.

Kesederhanaan yang dimaksud Gus Mus bukanlah kemiskinan gaya hidup, melainkan kelapangan hati. Ia mengingatkan bahwa beragama tidak harus galak, bahwa kesalehan tidak selalu harus ditunjukkan, dan bahwa merasa paling benar sering kali justru menjauhkan seseorang dari kebenaran itu sendiri. Pesan-pesan ini disampaikan tanpa teriak, tetapi menancap.

Membaca buku ini seperti membaca ulang diri sendiri. Kita dibuat sadar betapa sering agama kita jadikan alat pembenaran, bukan jalan perbaikan. Betapa sering kita sibuk mengatur surga-neraka orang lain, sementara urusan hati sendiri dibiarkan berantakan. Gus Mus menulis semua itu dengan bahasa yang lembut, sehingga teguran terasa seperti nasihat seorang kakek yang sayang, bukan vonis seorang hakim.

Yang membuat buku ini “dahsyat” justru karena ia tidak tampak dahsyat. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kalimat heroik. Yang ada hanyalah kalimat-kalimat pendek yang pelan-pelan meruntuhkan keangkuhan. Ia bekerja diam-diam, lama, dan setelah buku ditutup, kita baru sadar: ada sesuatu dalam diri yang bergeser.

Sederhana Tapi Dahsyat bukan buku yang selesai dibaca dalam sekali duduk, meski tipis. Ia perlu dibaca ulang, mungkin pada waktu hidup sedang sempit, atau ketika iman terasa penuh tapi kering. Buku ini tidak menjanjikan jawaban, tetapi menawarkan kejernihan. Dan barangkali, dalam dunia yang ribut oleh klaim kebenaran, kejernihan adalah anugerah yang paling langka.

Buku ini tidak membuat kita merasa lebih suci. Justru sebaliknya: ia membuat kita lebih berhati-hati untuk merasa suci. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya.

Kamis, 11 Desember 2025

Kisah Nyata Tobat Sang Pendosa

 Judul            : Tobat Itu Nikmat 
Penulis         : Asy’ari Khatib
Penerbit       : Zaman
Cetakan        : I, 2013
Tebal             : 180 halaman
ISBN             : 978-979-024-337-8

Dalam kamus bahasa Arab, kata tobat mempunyai arti al-rujû’ min al-dzambi yang artinya “kembali dari perbuatan dosa”. Di dalam hadist disebutkan bahwa al-nadmu taubatun “penyesalan itu manifestasi tobat”. Orang yang bertobat kepada Allah adalah kembali kepada Allah dari perbuatan maksiat dengan taat kepada-Nya. Jadi menurut Abu Mansur, asal dari kata tobat adalah kembali kepada Allah. yakni ketika seorang hamba telah bertobat kepada Allah, maka Allah akan kembali menerima hamba-Nya dengan pemberian ampunan.

Jika melihat dari penjelasan leksikal yang telah diuraikan di atas, maka dapat diketahui bahwa kata tobat selalu dikaitkan dengan kata dosa dan maksiat. Seakan perbuatan bertobat merupakan satu konsekuensi yang dilakukan hanya untuk hamba yang melakukan perbuatan dosa  dengan meninggalkan Allah dan melanggar perintah-Nya karena telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Dengan penuh kesadaran  dan penyesalan atas perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukannya kemudian ia berkeinginan untuk kembali kepada Allah dengan penuh ketaatan.

Dalam buku setebal 180 halaman Asy’ari Khatib menghadirkan kumpulan cerita inspritif tentang hamba-hamba Allah yang berlumuran dosa, dengan pertolongan Allah, mereka menyentuh lian lahat dengan berbekal tobat. Buku yang menyajikan 50 kisah-kisah orang-orang yang berlumuran dengan maksiat, disajikan dengan bahasa yang lugas sehingga mudah dipahami. Membaca buku Asy’ari Khatib inimengingatkan peresensi pada karya fenomenalnya Bilik-Bilik Cinta Muhammad yang telah behasil penulis buku salin (terjemah) kedalam bahasa Indonesia yang dramatis dan puitis.

Membaca kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini, menyadarkan kita pada keagungan Allah Swt. Allah tidak pernah membedakan antara makhluk-Nya yang iman dan yang ingkar semua tetap mendapat nikmatnya, serta makhluk-nya yang selalu berbuat maksiat senantiasa mendapat ampunannya, asal mereka mau bertobat. Sebagaimana firman-nya dalam surah al-Baqarah ayat 222. “Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mereka yang membersihkan diri”Dari ayat ini jelas bahwa Allah cinta pada hambanya yang mengakui kesalahannya, lantas bertobat.

Dalam sebuah hadist qudsi Rasulullah juga pernah bersabda “Allah bahagia menyambut tobat hamba-Nya melebihi bahagianya salah seorang kalian ketika berada di padang lepas, unta tunggangannya hilang bersama seluruh muatan bekal makanan dan minuman, lalu setelah putus asa dan berbaring dibawah rindang sebatang pohon, tiba-tiba unta itu berdiri tepat di hadapannya, dan dengan cepat ia melompat memegangi tali kekangnya. Saking bahagianya sampai-sampai Allah berseru, “Oh, engkau tuhanku dan aku hambamu. Eh, Aku sampai keliru saking bahagia-Ku. (hal. 25)

Pada halaman 48 dalam buku Ini dikisahkan bahwa pernah ada seorang pria Bani Israil bergelimangan maksiat selama 20 tahun. Padahal 20 tahun sebelumnya itu berlaku taat. Sampai suatu hari ia berdiri di depan cermin dan melihat jenggotnya sudah memutih. Kemudian ia berucap “Tuhanku, sudah dua puluh tahun aku bergelimangan maksiat. Jika aku kembali kepada-Mu, tolong terimalah aku!”. Tiba-tiba ia mendengar suara. “Telah kuasingkan dirimu dari-Ku maka Kuasingkan diri-Ku darimu. Telah kautinggalkan Aku maka Kutinggalkan dirimu. Kau telah maksiat kepada-Ku, tapi Kubiarkan dirimu. Maka jika kau kembali kepada-Ku, Aku pun menerimamu”.

Imam Al-Gazali berkata dalam Ihya’ Ulum al-Din, “Jika ada yang melampaui batas dalam kemaksiatan, lalu mengangkat tangan dan berdoa, Duh Tuhanku,’ maka suaranya akan ditutup oleh malaikat dari pertama..kedua..ketiga..sampai keempat. Kemudian Allah menegur, ‘Sampai kapan kau akan menutup suara hamba-Ku. Dia tahu tak ada yang bisa mengampuni dosa selain Aku. Maka saksikanlah, wahai malaikat-malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuninya. (hal.49)

Buku ini sangat layak dan cocok di konsumsi oleh kalangan umat islam, terlebih bagi mereka yang putus asa akan rahmat Allah karena saking banyakya mengerjakan maksiat. Tapi kendatipun tobat itu gampang, sebagaimana yang terdapat dalam kisah-kisah dalam buku ini, perlu disampaikan kembali perkataan penulis buku dalam sebuah kata pengantarnya bahwa: “Yang jelas, tak satu pun, kisah dalam buku ini yang merekomendasi pembaca baik secara tersurat maupun tersirat untuk melakukan dosa dan maksiat”.

Peresens: Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo


 dimuat di wasathon.com 08 February 2014