Barangkali kita terlalu sering mengira bahasa hanya soal alat komunikasi. Padahal, bahasa—terutama bahasa daerah—lebih mirip rumah: tempat seseorang pulang, beristirahat, dan mengenali dirinya sendiri. Ketika Wakil Menteri Stella mengajak anak-anak bercerita dalam bahasa daerah, ajakan itu terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak kejujurannya: hal-hal penting dalam hidup sering hadir tanpa gegap gempita.
Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan seragam. Bahasa yang mereka dengar di layar gawai sering kali bukan bahasa yang dipakai neneknya di dapur, atau kakeknya di beranda. Bahasa ibu pelan-pelan berubah menjadi bahasa asing—dipahami, mungkin, tetapi jarang dipakai. Ia ada, namun seperti perabot lama yang dibiarkan berdebu.
Bercerita dalam bahasa daerah bukan sekadar latihan berbahasa. Ia adalah latihan menjadi manusia yang berakar. Dalam cerita, anak belajar menyusun dunia: siapa yang baik, siapa yang licik, apa yang boleh, dan apa yang tabu. Bahasa daerah menyimpan cara pandang yang khas—kadang lebih halus, kadang lebih tegas—tentang bagaimana seseorang harus bersikap pada orang lain dan pada hidup itu sendiri.
Kita kerap bicara tentang literasi dengan nada serius: skor, peringkat, dan laporan. Padahal, sebelum literasi menjadi urusan statistik, ia adalah pengalaman batin. Seorang anak yang berani bercerita dalam bahasa daerah sedang belajar percaya pada suaranya sendiri. Ia belajar bahwa kisahnya layak didengar, meski disampaikan dengan kata-kata yang tak selalu hadir di buku pelajaran.
Ada pula dimensi yang sering kita lupakan: kedekatan emosional. Bahasa daerah biasanya adalah bahasa pertama yang dipakai untuk menenangkan, menegur, atau bercanda. Ketika anak bercerita dengan bahasa itu, ia sebenarnya sedang membuka pintu ke ruang keluarga dan komunitas. Di sana, cerita bukan hanya milik anak, melainkan milik bersama—ditimpali, dikoreksi, ditertawakan, lalu dikenang.
Di tengah kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah, ajakan ini terasa seperti menyalakan lampu kecil di lorong panjang. Ia mungkin tidak langsung mengubah segalanya. Namun cahaya kecil sering kali cukup untuk mengingatkan kita: masih ada jalan pulang.
Pada akhirnya, mengajak anak-anak bercerita dalam bahasa daerah adalah cara halus untuk berkata bahwa kemajuan tidak harus memutus ingatan. Bahwa menjadi modern tidak berarti menjadi amnesia. Dan bahwa masa depan, jika ingin kokoh, sebaiknya dibangun dari kata-kata yang pernah kita dengar saat pertama kali belajar memahami dunia.

