Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya Ironi Tragedi Mobil MBG ~ ASHUFA INSTITUTE

Kamis, 11 Desember 2025

Ironi Tragedi Mobil MBG

Dari kota sampai pelosok desa, mobil bertuliskan SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—sering lewat pelan seperti adegan dari iklan yang tidak selesai diproduksi. Catnya mengilap, stikernya rapi, warnanya mencolok, seperti ingin meyakinkan siapa saja bahwa kebaikan sedang bergerak. Anak-anak biasanya melambaikan tangan. Orang dewasa mengangguk, pura-pura percaya bahwa sesuatu yang baik memang sedang dikerjakan negara.

Tapi pada pagi tadi yang lembab, mobil itu bukan lagi simbol harapan. Ia berubah menjadi berita: kecelakaan, korban meninggal, dan serangkaian pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun. Seperti biasanya, tragedi datang tanpa menunggu kita sempat menata narasi.

Yang ironis bukan hanya kecelakaan itu sendiri, melainkan cara kita menghadapinya. Hampir tak ada yang bertanya mengapa mobil itu harus melaju terburu-buru. Tak ada yang menyoal apakah semua tenaga kerja benar-benar dilatih atau hanya “dikerahkan”. Kita begitu tergesa-gesa bersedih, hingga lupa menyisir alasan kenapa kesedihan ini datang.

Di sejumlah media sosial, pesan kekhawatiran, belum kering air mata kita memikirkan saudara-saudara kita yang tertimpa banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera, kini harus jatuh lagi korban jiwa anak-anak—pula. Foto dan video mobil MBG itu dibagikan berkali-kali, setiap orang menjadi kurator tragedi. Ada yang mengirim doa, ada yang menyalahkan takdir, ada pula yang menyisipkan komentar bahwa program ini tetap harus dipuji, seakan-akan kritik terhadap tragedi berarti pembatalan niat baik.

Padahal, yang patah bukan hanya bodi mobilnya, tapi kepercayaan yang selama ini kita bangun dengan rapuh. Kita percaya program itu dibuat demi anak-anak. Kita ingin percaya bahwa slogan-slogan itu bukan sekadar cat di sisi mobil. Tapi setiap tragedi mengingatkan kita pada hal yang selama ini kita hindari: bahwa program besar sering ditopang oleh sistem kecil yang tidak pernah dipikirkan matang.

Seseorang pernah berkata, “Niat baik tidak cukup ketika nyawa menjadi taruhannya.” Tapi kalimat semacam itu tidak populer. Ia tidak manis untuk baliho. Tidak enak untuk dikutip dalam pidato. Kita lebih suka kalimat-kalimat lembut yang membuat kita merasa sedang melakukan sesuatu yang besar, meski sebenarnya kita hanya sedang memutar roda yang sama—roda yang tidak pernah diperiksa remnya, tidak pernah dicek bannya, dan tidak pernah diperbaiki arah lajunya.

Di tengah semua itu, saya jadi ingat percakapan dengan seorang sopir angkot bertahun-tahun lalu. “Yang bikin celaka bukan jalan yang rusak,” katanya sambil menyalakan rokok, “tapi orang yang pura-pura tidak melihat kerusakannya.” Saat itu saya hanya mengangguk. Kini, ucapan itu kembali seperti tamparan kecil yang tidak ingin saya terima, tapi juga tidak bisa saya tolak.

Tragedi mobil MBG adalah ironi paling telanjang: sebuah kendaraan yang dirancang untuk memberi kehidupan justru merenggutnya. Dan kita, seperti biasa, sibuk merapikan narasi sambil berharap semua orang cepat lupa.

Namun lupa adalah kemewahan yang berbahaya. Sebab jika kita terus melupakannya, mobil-mobil serupa akan tetap melaju, dengan sopir yang sama lelahnya, dengan manajemen yang sama tergopohnya, dan dengan harapan yang dipoles berlebihan hingga kehilangan bentuknya.

Mungkin yang kita butuhkan bukan mobil baru atau slogan baru, melainkan kebiasaan yang sederhana: berhenti sejenak, memeriksa semuanya, dan mengakui bahwa kebaikan tidak boleh menyisakan celah untuk kelalaian.

Kita selalu bangga menyebut program ini sebagai langkah maju. Tetapi tragedi itu mengingatkan kita, dengan cara yang paling pahit, bahwa melaju terlalu cepat tanpa melihat jalan bukanlah kemajuan. Itu hanya cara baru untuk menabrak.

 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar