Setiap kali saya mendengar orang-orang membicarakan soal
Makan Bergizi Gratis yang sekarang menjadi jargon ramai itu, saya selalu teringat pada satu hal yang jauh lebih saya butuhkan: bacaan. Perut memang harus diisi, tetapi kepala yang kosong lebih berbahaya ketimbang lambung yang keroncongan. Lambung hanya mengeluh, sedangkan kepala yang kosong bisa menyesatkan siapa saja—termasuk pemiliknya sendiri.
Maka lahirlah angan-angan itu: Bacaan Berkualitas Gratis, sebuah utopia kecil yang keluar dari gagasan Gus Fayyadl Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Saya membayangkan bahawa gagasan ini sebagai antitesis dari program makan bergizi gratis. Sebab jika MBG bertugas menyehatkan tubuh, BBG mungkin bisa menyehatkan kesadaran, menyuburkan pikiran, dan memberi gizi pada imajinasi yang sering kita abaikan dalam hiruk-pikuk hidup yang terburu-buru.
Dalam bayangan saya, BBG itu hadir seperti warung sederhana di pinggir jalan kampung. Tidak ada lemari pendingin berisi susu UHT atau roti-fortifikasi-omega-berapa-pun. Yang ada hanya rak kayu bersahaja berisi buku yang sudah agak kusam sampulnya, majalah lama yang aromanya seperti museum, dan beberapa koran daerah yang memuat berita-berita kecil tentang hidup orang kecil. Orang boleh datang, pilih bacaan, duduk, lalu membaca. Tidak ada absensi, tidak ada barcode, tidak ada petugas yang menatap curiga, dan tidak ada spanduk yang berlebihan.
Bahkan, dalam angan-angan yang lebih jauh, seorang anak SD bisa mampir setelah pulang sekolah, membuka buku cerita tentang petualangan seorang bocah melintasi sungai, lalu menghabiskan satu jam penuh tanpa paksaan apa pun—sebuah kemewahan yang bahkan banyak orang dewasa kini tak lagi sanggup menikmati.
BBG, bagi saya, bukan program. Ia lebih mirip semangat yang diwariskan oleh orang-orang tua kita dulu: ketika salah satu tetangga membeli koran, seluruh kampung bisa membaca isinya dengan cara pinjam bergiliran. Ketika ada satu buku cerita tersesat dari pameran buku murah, anak-anak membacanya sampai halaman-halamannya kusut. Bacaan disebarkan bukan karena instruksi, tetapi karena kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
Sekarang, bacaan justru sering terasa seperti barang mewah. Buku dinilai dari ketebalan dan harga, bukan dari isi. Bacaan bagus menjadi tren sesaat, lalu tenggelam oleh ribuan konten yang lebih menarik karena hanya perlu digulir dengan ibu jari. Saya sering membayangkan, kalau para pendiri bangsa ini melihat keadaan hari ini, mungkin ia akan tersenyum getir sambil berkata, “Manusia modern punya seluruh dunia di saku celananya, tapi mereka jarang membacanya.”
Itulah sebabnya BBG terasa penting. Bahkan lebih mendesak daripada MBG—karena tubuh yang kenyang tanpa pikiran yang tercerahkan hanya menghasilkan manusia yang kuat tetapi mudah digiring. Negara ingin perut warga sehat; saya ingin pikiran warga waras. Dua hal yang sayangnya tidak selalu berjalan beriringan.
BBG bukan untuk membuat orang pintar. Tidak. Bacaan berkualitas tidak menjanjikan kecerdasan instan. Ia hanya membuka sedikit jendela di dalam diri kita—kadang cukup untuk melihat hal-hal yang sebelumnya gelap. Kadang cukup untuk menyadarkan bahwa dunia lebih luas daripada yang kita kira. Kadang cukup untuk membuat seseorang berkata, “Oh, jadi hidup tak harus sesempit ini.”
Dan bukankah itu sudah sangat banyak?
Pada akhirnya, saya percaya, sebuah bangsa tidak akan tumbuh karena perutnya kenyang saja, tetapi karena pikirannya punya ruang untuk berjalan-jalan. Karena warganya membaca bukan hanya diktat pelajaran, melainkan juga cerita, pemikiran, imajinasi, dan renungan. Karena mereka memaknai hidup tidak sekadar dari layar yang menyala, tetapi dari halaman yang diam menunggu disentuh.
Jika makan bergizi gratis adalah hadiah untuk tubuh, maka bacaan berkualitas gratis adalah hadiah untuk jiwa. Saya tidak tahu mana yang lebih penting. Tapi saya tahu, seandainya kedua-duanya bisa diberikan tanpa pamrih, barangkali bangsa ini akan tumbuh dengan kepala yang lebih terang dan hati yang lebih lapang.
Dan mungkin, siapa tahu, dari sebuah rak buku sederhana di pinggir kampung, lahir seseorang—entah anak kecil atau orang dewasa—yang suatu hari berkata: “Saya berubah bukan karena bantuan yang mengenyangkan perut, tapi karena sebuah bacaan gratis yang mengenyangkan pikiran.”