Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya ASHUFA INSTITUTE

Kamis, 11 Desember 2025

Pelepasan Relawan Madrasah Memanggil Ke-3

 

Pamekasan —
 Acara pelepasan Relawan Madrasah Memanggil Angkatan ke-3 Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jawa Timur digelar di Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan, Rabu (3/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Bergerak Bersama Menuju Madrasah Berkualitas” dan dihadiri puluhan relawan yang siap diterjunkan ke berbagai wilayah pelosok.

Program Madrasah Memanggil bertujuan menggerakkan partisipasi masyarakat untuk mendukung peningkatan kualitas madrasah, khususnya melalui pendampingan tata kelola, penguatan pembelajaran, dan optimalisasi layanan pendidikan. Para relawan yang lolos seleksi akan ditugaskan di sejumlah madrasah dengan berbagai tantangan sarana dan prasarana.

Dalam sambutannya, Bupati Pamekasan menekankan pentingnya gerakan kembali memperkuat peran madrasah dalam pembangunan sumber daya manusia. Ia menyampaikan ajakan “back to madrasah”, sebagai refleksi bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan yang telah lama menjadi fondasi pembentukan karakter dan literasi masyarakat.

Para relawan yang dilepas pada kesempatan tersebut berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Mereka telah melalui proses pendaftaran dan verifikasi, sebelum akhirnya bersedia ditempatkan di madrasah-madrasah yang membutuhkan pendampingan langsung.

Program ini menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan semangat kerelawanan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Relawan akan membantu penataan administrasi, penguatan literasi, serta pembangunan lingkungan belajar yang lebih tertata.

Pelepasan relawan ditandai dengan pemukulan gong oleh pejabat daerah, sebagai simbol dimulainya tugas para pendamping di lapangan. Para relawan diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di madrasah tempat mereka bertugas.

Kegiatan ini menegaskan kembali bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kontribusi nyata masyarakat yang bersedia terjun langsung mendampingi madrasah untuk terus berkembang.

Rabu, 03 Desember 2025

Bacaan Berkualitas Gratis (BBG)

Setiap kali saya mendengar orang-orang membicarakan soal Makan Bergizi Gratis yang sekarang menjadi jargon ramai itu, saya selalu teringat pada satu hal yang jauh lebih saya butuhkan: bacaan. Perut memang harus diisi, tetapi kepala yang kosong lebih berbahaya ketimbang lambung yang keroncongan. Lambung hanya mengeluh, sedangkan kepala yang kosong bisa menyesatkan siapa saja—termasuk pemiliknya sendiri.

Maka lahirlah angan-angan itu: Bacaan Berkualitas Gratis, sebuah utopia kecil yang keluar dari gagasan Gus Fayyadl Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Saya membayangkan  bahawa gagasan ini sebagai antitesis dari program makan bergizi gratis. Sebab jika MBG bertugas menyehatkan tubuh, BBG mungkin bisa menyehatkan kesadaran, menyuburkan pikiran, dan memberi gizi pada imajinasi yang sering kita abaikan dalam hiruk-pikuk hidup yang terburu-buru.

Dalam bayangan saya, BBG itu hadir seperti warung sederhana di pinggir jalan kampung. Tidak ada lemari pendingin berisi susu UHT atau roti-fortifikasi-omega-berapa-pun. Yang ada hanya rak kayu bersahaja berisi buku yang sudah agak kusam sampulnya, majalah lama yang aromanya seperti museum, dan beberapa koran daerah yang memuat berita-berita kecil tentang hidup orang kecil. Orang boleh datang, pilih bacaan, duduk, lalu membaca. Tidak ada absensi, tidak ada barcode, tidak ada petugas yang menatap curiga, dan tidak ada spanduk yang berlebihan.

Bahkan, dalam angan-angan yang lebih jauh, seorang anak SD bisa mampir setelah pulang sekolah, membuka buku cerita tentang petualangan seorang bocah melintasi sungai, lalu menghabiskan satu jam penuh tanpa paksaan apa pun—sebuah kemewahan yang bahkan banyak orang dewasa kini tak lagi sanggup menikmati.

BBG, bagi saya, bukan program. Ia lebih mirip semangat yang diwariskan oleh orang-orang tua kita dulu: ketika salah satu tetangga membeli koran, seluruh kampung bisa membaca isinya dengan cara pinjam bergiliran. Ketika ada satu buku cerita tersesat dari pameran buku murah, anak-anak membacanya sampai halaman-halamannya kusut. Bacaan disebarkan bukan karena instruksi, tetapi karena kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

Sekarang, bacaan justru sering terasa seperti barang mewah. Buku dinilai dari ketebalan dan harga, bukan dari isi. Bacaan bagus menjadi tren sesaat, lalu tenggelam oleh ribuan konten yang lebih menarik karena hanya perlu digulir dengan ibu jari. Saya sering membayangkan, kalau para pendiri bangsa ini melihat keadaan hari ini, mungkin ia akan tersenyum getir sambil berkata, “Manusia modern punya seluruh dunia di saku celananya, tapi mereka jarang membacanya.”

Itulah sebabnya BBG terasa penting. Bahkan lebih mendesak daripada MBG—karena tubuh yang kenyang tanpa pikiran yang tercerahkan hanya menghasilkan manusia yang kuat tetapi mudah digiring. Negara ingin perut warga sehat; saya ingin pikiran warga waras. Dua hal yang sayangnya tidak selalu berjalan beriringan.

BBG bukan untuk membuat orang pintar. Tidak. Bacaan berkualitas tidak menjanjikan kecerdasan instan. Ia hanya membuka sedikit jendela di dalam diri kita—kadang cukup untuk melihat hal-hal yang sebelumnya gelap. Kadang cukup untuk menyadarkan bahwa dunia lebih luas daripada yang kita kira. Kadang cukup untuk membuat seseorang berkata, “Oh, jadi hidup tak harus sesempit ini.”

Dan bukankah itu sudah sangat banyak?

Pada akhirnya, saya percaya, sebuah bangsa tidak akan tumbuh karena perutnya kenyang saja, tetapi karena pikirannya punya ruang untuk berjalan-jalan. Karena warganya membaca bukan hanya diktat pelajaran, melainkan juga cerita, pemikiran, imajinasi, dan renungan. Karena mereka memaknai hidup tidak sekadar dari layar yang menyala, tetapi dari halaman yang diam menunggu disentuh.

Jika makan bergizi gratis adalah hadiah untuk tubuh, maka bacaan berkualitas gratis adalah hadiah untuk jiwa. Saya tidak tahu mana yang lebih penting. Tapi saya tahu, seandainya kedua-duanya bisa diberikan tanpa pamrih, barangkali bangsa ini akan tumbuh dengan kepala yang lebih terang dan hati yang lebih lapang.

Dan mungkin, siapa tahu, dari sebuah rak buku sederhana di pinggir kampung, lahir seseorang—entah anak kecil atau orang dewasa—yang suatu hari berkata: “Saya berubah bukan karena bantuan yang mengenyangkan perut, tapi karena sebuah bacaan gratis yang mengenyangkan pikiran.”

 

Ironi Tragedi Mobil MBG

Dari kota sampai pelosok desa, mobil bertuliskan SPPG—Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—sering lewat pelan seperti adegan dari iklan yang tidak selesai diproduksi. Catnya mengilap, stikernya rapi, warnanya mencolok, seperti ingin meyakinkan siapa saja bahwa kebaikan sedang bergerak. Anak-anak biasanya melambaikan tangan. Orang dewasa mengangguk, pura-pura percaya bahwa sesuatu yang baik memang sedang dikerjakan negara.

Tapi pada pagi tadi yang lembab, mobil itu bukan lagi simbol harapan. Ia berubah menjadi berita: kecelakaan, korban meninggal, dan serangkaian pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun. Seperti biasanya, tragedi datang tanpa menunggu kita sempat menata narasi.

Yang ironis bukan hanya kecelakaan itu sendiri, melainkan cara kita menghadapinya. Hampir tak ada yang bertanya mengapa mobil itu harus melaju terburu-buru. Tak ada yang menyoal apakah semua tenaga kerja benar-benar dilatih atau hanya “dikerahkan”. Kita begitu tergesa-gesa bersedih, hingga lupa menyisir alasan kenapa kesedihan ini datang.

Di sejumlah media sosial, pesan kekhawatiran, belum kering air mata kita memikirkan saudara-saudara kita yang tertimpa banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera, kini harus jatuh lagi korban jiwa anak-anak—pula. Foto dan video mobil MBG itu dibagikan berkali-kali, setiap orang menjadi kurator tragedi. Ada yang mengirim doa, ada yang menyalahkan takdir, ada pula yang menyisipkan komentar bahwa program ini tetap harus dipuji, seakan-akan kritik terhadap tragedi berarti pembatalan niat baik.

Padahal, yang patah bukan hanya bodi mobilnya, tapi kepercayaan yang selama ini kita bangun dengan rapuh. Kita percaya program itu dibuat demi anak-anak. Kita ingin percaya bahwa slogan-slogan itu bukan sekadar cat di sisi mobil. Tapi setiap tragedi mengingatkan kita pada hal yang selama ini kita hindari: bahwa program besar sering ditopang oleh sistem kecil yang tidak pernah dipikirkan matang.

Seseorang pernah berkata, “Niat baik tidak cukup ketika nyawa menjadi taruhannya.” Tapi kalimat semacam itu tidak populer. Ia tidak manis untuk baliho. Tidak enak untuk dikutip dalam pidato. Kita lebih suka kalimat-kalimat lembut yang membuat kita merasa sedang melakukan sesuatu yang besar, meski sebenarnya kita hanya sedang memutar roda yang sama—roda yang tidak pernah diperiksa remnya, tidak pernah dicek bannya, dan tidak pernah diperbaiki arah lajunya.

Di tengah semua itu, saya jadi ingat percakapan dengan seorang sopir angkot bertahun-tahun lalu. “Yang bikin celaka bukan jalan yang rusak,” katanya sambil menyalakan rokok, “tapi orang yang pura-pura tidak melihat kerusakannya.” Saat itu saya hanya mengangguk. Kini, ucapan itu kembali seperti tamparan kecil yang tidak ingin saya terima, tapi juga tidak bisa saya tolak.

Tragedi mobil MBG adalah ironi paling telanjang: sebuah kendaraan yang dirancang untuk memberi kehidupan justru merenggutnya. Dan kita, seperti biasa, sibuk merapikan narasi sambil berharap semua orang cepat lupa.

Namun lupa adalah kemewahan yang berbahaya. Sebab jika kita terus melupakannya, mobil-mobil serupa akan tetap melaju, dengan sopir yang sama lelahnya, dengan manajemen yang sama tergopohnya, dan dengan harapan yang dipoles berlebihan hingga kehilangan bentuknya.

Mungkin yang kita butuhkan bukan mobil baru atau slogan baru, melainkan kebiasaan yang sederhana: berhenti sejenak, memeriksa semuanya, dan mengakui bahwa kebaikan tidak boleh menyisakan celah untuk kelalaian.

Kita selalu bangga menyebut program ini sebagai langkah maju. Tetapi tragedi itu mengingatkan kita, dengan cara yang paling pahit, bahwa melaju terlalu cepat tanpa melihat jalan bukanlah kemajuan. Itu hanya cara baru untuk menabrak.