Sampang—Founder Ashufa Institute, Umar Faruk, S.E., M.Pd., menjadi pemateri dalam kegiatan Kaderisasi Mahasiswa Bata-Bata (KMB) Ke-5 yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Kabupaten Sampang, dengan mengusung tema Kepesantrenan sebagai Fondasi Gerakan Mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Umar Faruk menegaskan bahwa nilai-nilai kepesantrenan seperti keikhlasan, kedisiplinan, adab, dan khidmah harus menjadi ruh dalam setiap gerak organisasi mahasiswa pesantren. Menurutnya, kaderisasi bukan sekadar proses struktural, melainkan ikhtiar membentuk karakter santri-intelektual yang mampu menjaga tradisi sekaligus merespons tantangan zaman.
“Pesantren tidak hanya melahirkan orang alim, tetapi juga membentuk manusia yang beradab. Ketika nilai kepesantrenan hilang dari organisasi, maka yang tersisa hanyalah aktivitas tanpa ruh,” ungkapnya di hadapan peserta kaderisasi.
Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa pesantren untuk tetap berpijak pada tradisi keilmuan pesantren di tengah arus modernisasi. Organisasi, lanjutnya, harus menjadi ruang dialektika antara tradisi dan pembaruan, bukan meninggalkan akar identitas kepesantrenan.
Kegiatan KMB V ini diikuti oleh pengurus dan calon kader Ikatan Mahasiswa Bata-Bata. Suasana kaderisasi berlangsung khidmat dan dialogis, dengan diskusi aktif seputar peran mahasiswa pesantren dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan sosial kemasyarakatan.
Sebagai penutup kegiatan, panitia menyerahkan cendera mata kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi. Melalui kaderisasi bertema kepesantrenan ini, diharapkan lahir kader-kader mahasiswa yang berintegritas, berjiwa santri, dan mampu menggerakkan organisasi secara berkelanjutan. (Ags)

