Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya ASHUFA INSTITUTE

Rabu, 24 Desember 2025

Nilai Rendah TKA: Alarm Keras bagi Arah Pendidikan Nasional

Pengumuman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait rekapitulasi hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang menunjukkan Bahasa Inggris dan Matematika sebagai mata pelajaran dengan nilai terendah secara nasional bukan sekadar data statistik. Ia adalah alarm keras yang menuntut refleksi mendalam atas arah, praktik, dan filosofi pendidikan Indonesia.

Secara kritis, rendahnya capaian pada dua mata pelajaran fundamental ini menyingkap problem struktural yang telah lama mengendap. Bahasa Inggris dan Matematika bukan hanya mata pelajaran, melainkan instrumen berpikir global dan logika dasar. Jika dua kompetensi ini lemah, maka daya saing generasi muda Indonesia di tingkat nasional maupun internasional ikut tergerus. Ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran selama ini masih terlalu berorientasi pada hafalan, ketuntasan kurikulum, dan target administratif, alih-alih pada pemahaman konsep dan penerapan nyata.

Dari sisi reflektif, hasil TKA 2025 seharusnya mendorong semua pemangku kepentingan—guru, sekolah, pembuat kebijakan, hingga masyarakat—untuk bercermin. Apakah ruang kelas kita telah menjadi ruang belajar yang hidup? Ataukah masih menjadi ruang transfer materi satu arah? Apakah guru diberi cukup ruang untuk berinovasi, atau justru dibebani laporan dan regulasi yang menggerus energi pedagogis? Dalam konteks ini, kegagalan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada siswa, karena hasil belajar adalah cermin ekosistem pendidikan secara keseluruhan.

Secara argumentatif, solusi atas rendahnya nilai TKA tidak cukup dengan penambahan jam pelajaran, try out masif, atau pengetatan evaluasi. Justru yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma pembelajaran. Bahasa Inggris perlu diajarkan sebagai alat komunikasi dan ekspresi, bukan sekadar tata bahasa. Matematika harus dihadirkan sebagai alat bernalar dan memecahkan masalah kehidupan, bukan sekadar kumpulan rumus. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), kontekstual, dan berbasis makna menjadi keniscayaan, bukan pilihan.

Lebih jauh, negara perlu berani mengaitkan reformasi akademik dengan nilai kemanusiaan. Pendidikan yang hanya mengejar angka tanpa memperhatikan relasi guru-siswa, motivasi intrinsik, dan iklim belajar yang aman akan terus menghasilkan capaian yang rapuh. Kualitas akademik tidak akan tumbuh di tanah yang kering dari empati, cinta belajar, dan kepercayaan.

Dengan demikian, rendahnya nilai TKA 2025 semestinya tidak dipahami sebagai kegagalan siswa, melainkan sebagai titik balik kebijakan. Jika pemerintah mampu menjadikannya dasar evaluasi menyeluruh—bukan sekadar wacana—maka krisis ini bisa berubah menjadi momentum perbaikan. Pendidikan Indonesia tidak kekurangan kurikulum, tetapi masih membutuhkan keberanian untuk membangun pembelajaran yang bermakna, adil, dan memerdekakan. 

Selasa, 23 Desember 2025

Cinta, Deep Learning, dan Pendidikan

 

Perkembangan teknologi digital yang melaju begitu cepat telah membawa dunia pendidikan ke sebuah persimpangan penting. Di satu sisi, kemajuan kecerdasan buatan—khususnya deep learning—menawarkan potensi besar untuk mentransformasi cara kita belajar dan mengajar. Di sisi lain, muncul kegelisahan mendasar: jangan-jangan di tengah kecanggihan teknologi, kita justru kehilangan esensi utama pendidikan itu sendiri—cinta.

Deep learning memungkinkan sistem pembelajaran beradaptasi secara dinamis dengan kebutuhan peserta didik. Melalui analisis data berskala besar, teknologi ini mampu mengenali pola belajar, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa, serta memberikan umpan balik yang lebih personal. Materi pembelajaran dapat disesuaikan, kecepatan belajar dapat diatur, dan pengalaman belajar menjadi lebih individual. Dalam konteks ini, deep learning menjanjikan revolusi personalisasi pendidikan yang selama ini sulit diwujudkan secara optimal.

Namun, pendidikan tidak pernah sekadar urusan efisiensi dan akurasi data. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia menyangkut pembentukan karakter, pengasahan nurani, pengembangan empati, dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan. Ketika pendidikan direduksi menjadi sekadar algoritma dan metrik kinerja, di situlah risiko terbesar muncul: hilangnya sentuhan manusiawi yang menjadi jantung pendidikan.

Kita patut bertanya secara jujur: apakah ketergantungan berlebihan pada teknologi tidak akan menggerus interaksi sosial, kolaborasi, dan kreativitas peserta didik? Apakah layar-layar digital akan menggantikan ruang dialog, kehangatan relasi, dan keteladanan guru? Jika pertanyaan ini diabaikan, kita berisiko melahirkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi rapuh secara emosional dan sosial.

Selain itu, penggunaan deep learning dalam pendidikan juga menyimpan persoalan etis. Algoritma bekerja berdasarkan data, dan data tidak pernah sepenuhnya netral. Bias yang tertanam dalam data berpotensi direproduksi oleh sistem, bahkan diperkuat. Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat berujung pada ketidakadilan—di mana siswa dari kelompok rentan atau latar belakang ekonomi lemah justru semakin tertinggal akibat keputusan sistem yang tampak objektif, tetapi sesungguhnya bias.

Di sinilah pentingnya kembali pada fondasi pendidikan berbasis cinta. Cinta bukan sekadar afeksi sentimental, melainkan komitmen moral untuk memandang setiap peserta didik sebagai manusia seutuhnya—unik, berharga, dan memiliki potensi yang patut dikembangkan. Pendidikan berbasis cinta menempatkan kepedulian, keadilan, dan keberpihakan pada tumbuh kembang peserta didik sebagai tujuan utama.

Pendidikan yang berlandaskan cinta menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan memberdayakan. Guru hadir bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pendamping, pembimbing, dan inspirator. Dalam ruang seperti ini, peserta didik merasa dihargai, didengar, dan diberi kepercayaan untuk bertumbuh.

Integrasi deep learning dan cinta bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya terletak pada keseimbangan. Teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Deep learning dapat membantu guru memahami kebutuhan siswa secara lebih mendalam, memberikan umpan balik yang tepat, serta merancang pembelajaran yang lebih adaptif. Namun, relasi manusiawi, keteladanan nilai, dan sentuhan empati tetap harus menjadi inti proses pendidikan.

Lebih jauh, pengembangan dan penerapan teknologi pendidikan perlu diawasi secara etis dan multidisipliner. Keterlibatan pakar pendidikan, etika, dan ilmu sosial menjadi penting agar teknologi yang digunakan bersifat adil, transparan, dan berpihak pada kemanusiaan.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan oleh nilai apa yang melandasinya. Deep learning memang menawarkan peluang besar, tetapi tanpa cinta, ia hanya akan menjadi mesin tanpa jiwa. Dengan menjadikan cinta sebagai fondasi setiap inovasi pendidikan, kita tidak hanya mencetak generasi yang cerdas dan terampil, tetapi juga generasi yang berakhlak, berempati, dan bertanggung jawab. Di sanalah pendidikan menemukan kembali maknanya yang paling hakiki.

Fita Fitriah  Mahasiswi Semester 3 IAI Nazhatut Thullab di Lingkungan PP Gedangan


Minggu, 21 Desember 2025

Program Bhakti Sosial TJSL PT Pegadaian Syariah

Sawah Tengah—PT Pegadaian Syariah menyalurkan bantuan berupa bangku dan meja guru melalui Program Bhakti Sosial Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kepada 30 madrasah se-Madura Raya. Penyerahan bantuan tersebut berlangsung secara simbolis di salah satu madrasah tepatnya di MI Miftahul Huda Al-miftah yang berlokasi di kampung Morsongai Ds. Sawah Tengah Kec. Robatal Kab. Sampang.

Hadir dalam kegiatan tersebut bapak M. Charis Hamid, S.E., M.M. Selaku Kepala Depertemen Produk Gadai, didampingi oleh Moh. Ali Muhsin, M.Pd Ketu PW PGMNI Jawa Timur serta disambut langsung oleh ketua yayasan sekaligus Pengasuh PP. Progresif Al-Miftah Sawah Tengah K. Achmad Subairi Munaji dan Kepala Pesantren L. Umar Faruk Subairi, M.Pd.

Program Bhakti Sosial TJSL ini merupakan bentuk komitmen PT Pegadaian Syariah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di lingkungan madrasah. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu menunjang kebutuhan pendidikan dan operasional lembaga pendidikan Islam di wilayah Madura.

Perwakilan PT Pegadaian Syariah menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya melalui layanan keuangan syariah, tetapi juga melalui kontribusi sosial yang berdampak langsung. Madrasah dipilih karena dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, akhlak, dan kecerdasan generasi muda.

Pihak madrasah penerima bantuan menyambut baik program tersebut dan mengapresiasi kepedulian PT Pegadaian Syariah terhadap dunia pendidikan. Menurut mereka, bantuan ini sangat berarti, terutama dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan sarana pendidikan.

Melalui Program Bhakti Sosial TJSL, PT Pegadaian Syariah berharap dapat terus memperkuat sinergi dengan lembaga pendidikan dan masyarakat, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan di Madura Raya. (Ags)