Ashufa Institute adalah sebuah platform gerakan melek literasi digital II Redaksi menerima kiriman karya opini, esai, puisi, cerpen dan resensi buku silakan kirim karya terbaik anda ke email: ashufainstitute@gmail.com II Menerima dan Menyalurkan Donasi Al-Qur'an, Kitab dan Buku (DOAKU) atau Bantuan Berupa Beasiswa dan Pengadaan Fasilitas Lembaga Pendidikan Lainnya ASHUFA INSTITUTE

Senin, 15 Desember 2025

Literasi Baca-Tulis

 

Berbicara tentang literasi baca tulis, kita sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih luas dari sekadar kemampuan mengeja huruf atau merangkai kalimat. Membaca dan menulis memang pintu masuknya, tetapi bukan tujuan akhirnya. Ia hanyalah gerbang kecil menuju wilayah yang jauh lebih besar: kemampuan memahami dunia.

Literasi baca tulis berangkat dari kecakapan menangkap makna dalam teks—baik yang diucapkan secara terang-terangan maupun yang diselipkan diam-diam. Membaca bukan hanya soal tahu apa yang tertulis, melainkan mengerti apa yang ingin disampaikan, bahkan apa yang sengaja tidak dikatakan. Di titik inilah membaca menjadi kerja batin: menafsir, merasakan, dan mengaitkan teks dengan pengalaman hidup.

Namun literasi tidak berhenti di halaman buku. Pada perkembangannya, membaca dan menulis menjelma menjadi sarana komunikasi sosial. Apa yang kita pahami dari teks akan memengaruhi cara kita berbicara, bersikap, dan mengambil posisi di tengah masyarakat. Literasi membuat seseorang tidak mudah ditelan arus informasi, tidak gampang terpancing, dan tidak asal percaya.

Menulis pun demikian. Ia bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan upaya menyusun pikiran agar tertib, jujur, dan bertanggung jawab. Orang yang terbiasa menulis cenderung lebih berhati-hati dalam berpikir, sebab ia tahu setiap kata membawa konsekuensi. Dalam dunia yang riuh oleh opini serba cepat, kemampuan menulis menjadi cara untuk memperlambat diri—agar tidak gegabah.

Pada akhirnya, literasi baca tulis adalah fondasi dari semua pengetahuan. Tanpa kemampuan membaca dan menulis yang baik, ilmu lain hanya akan menjadi hafalan rapuh. Literasi membentuk cara kita memahami informasi, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan mengembangkan potensi diri secara sadar.

Maka literasi bukan sekadar urusan sekolah atau tugas akademik. Ia adalah bekal hidup. Sebuah kemampuan dasar agar manusia tidak hanya bisa hidup, tetapi juga mengerti mengapa dan bagaimana ia hidup.

Kesederhanaan yang Tidak Pernah Sederhana


Biodata Buku : 
Judul: : SEDERHANA TAPI DAHSYAT: Langkah  Sederhana yang Akan Membuat Anda  Menjadi Milyarder
Pengarang : Mustofa Romdloni 
Penerbit : Kreasi Kata 
Terbit : Juni 2013 
Genre : Motivasi / Bisnis 
ISBN - 13 : 978-602-97066-4-2 
Jumlah halaman : 190 halaman 
Harga : Rp. 39.500,- 

Ada buku yang dibaca untuk menambah pengetahuan, ada pula buku yang dibaca untuk menata ulang batin. Sederhana Tapi Dahsyat karya Mustofa Bisri—atau yang akrab disapa Gus Mus—tergolong jenis kedua. Ia tidak menawarkan teori besar, tidak pula memamerkan istilah rumit. Justru dari kesederhanaannya itulah daya gedornya lahir.

Buku ini terasa seperti obrolan pelan di serambi pesantren. Tidak menggurui, tidak pula memaksa pembaca untuk sepakat. Gus Mus menulis sebagaimana ia hidup: jujur, bersahaja, dan penuh welas asih. Ia tidak sedang menunjukkan betapa alim dirinya, melainkan mengajak pembaca bercermin—sering kali dengan rasa tidak nyaman, tetapi perlu.

Dalam halaman-halamannya, kita diajak menyadari satu hal yang kerap kita lupakan: bahwa agama bukan soal tampilan luar, melainkan kerja sunyi di dalam diri. Gus Mus tidak sibuk menghakimi kesalahan orang lain. Ia justru lebih keras pada dirinya sendiri. Di situlah letak kejujurannya. Ia menulis bukan dari menara gading, melainkan dari luka, kegelisahan, dan keinsafan seorang manusia biasa.

Kesederhanaan yang dimaksud Gus Mus bukanlah kemiskinan gaya hidup, melainkan kelapangan hati. Ia mengingatkan bahwa beragama tidak harus galak, bahwa kesalehan tidak selalu harus ditunjukkan, dan bahwa merasa paling benar sering kali justru menjauhkan seseorang dari kebenaran itu sendiri. Pesan-pesan ini disampaikan tanpa teriak, tetapi menancap.

Membaca buku ini seperti membaca ulang diri sendiri. Kita dibuat sadar betapa sering agama kita jadikan alat pembenaran, bukan jalan perbaikan. Betapa sering kita sibuk mengatur surga-neraka orang lain, sementara urusan hati sendiri dibiarkan berantakan. Gus Mus menulis semua itu dengan bahasa yang lembut, sehingga teguran terasa seperti nasihat seorang kakek yang sayang, bukan vonis seorang hakim.

Yang membuat buku ini “dahsyat” justru karena ia tidak tampak dahsyat. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kalimat heroik. Yang ada hanyalah kalimat-kalimat pendek yang pelan-pelan meruntuhkan keangkuhan. Ia bekerja diam-diam, lama, dan setelah buku ditutup, kita baru sadar: ada sesuatu dalam diri yang bergeser.

Sederhana Tapi Dahsyat bukan buku yang selesai dibaca dalam sekali duduk, meski tipis. Ia perlu dibaca ulang, mungkin pada waktu hidup sedang sempit, atau ketika iman terasa penuh tapi kering. Buku ini tidak menjanjikan jawaban, tetapi menawarkan kejernihan. Dan barangkali, dalam dunia yang ribut oleh klaim kebenaran, kejernihan adalah anugerah yang paling langka.

Buku ini tidak membuat kita merasa lebih suci. Justru sebaliknya: ia membuat kita lebih berhati-hati untuk merasa suci. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya.

Kamis, 11 Desember 2025

Kisah Nyata Tobat Sang Pendosa

 Judul            : Tobat Itu Nikmat 
Penulis         : Asy’ari Khatib
Penerbit       : Zaman
Cetakan        : I, 2013
Tebal             : 180 halaman
ISBN             : 978-979-024-337-8

Dalam kamus bahasa Arab, kata tobat mempunyai arti al-rujû’ min al-dzambi yang artinya “kembali dari perbuatan dosa”. Di dalam hadist disebutkan bahwa al-nadmu taubatun “penyesalan itu manifestasi tobat”. Orang yang bertobat kepada Allah adalah kembali kepada Allah dari perbuatan maksiat dengan taat kepada-Nya. Jadi menurut Abu Mansur, asal dari kata tobat adalah kembali kepada Allah. yakni ketika seorang hamba telah bertobat kepada Allah, maka Allah akan kembali menerima hamba-Nya dengan pemberian ampunan.

Jika melihat dari penjelasan leksikal yang telah diuraikan di atas, maka dapat diketahui bahwa kata tobat selalu dikaitkan dengan kata dosa dan maksiat. Seakan perbuatan bertobat merupakan satu konsekuensi yang dilakukan hanya untuk hamba yang melakukan perbuatan dosa  dengan meninggalkan Allah dan melanggar perintah-Nya karena telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Dengan penuh kesadaran  dan penyesalan atas perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukannya kemudian ia berkeinginan untuk kembali kepada Allah dengan penuh ketaatan.

Dalam buku setebal 180 halaman Asy’ari Khatib menghadirkan kumpulan cerita inspritif tentang hamba-hamba Allah yang berlumuran dosa, dengan pertolongan Allah, mereka menyentuh lian lahat dengan berbekal tobat. Buku yang menyajikan 50 kisah-kisah orang-orang yang berlumuran dengan maksiat, disajikan dengan bahasa yang lugas sehingga mudah dipahami. Membaca buku Asy’ari Khatib inimengingatkan peresensi pada karya fenomenalnya Bilik-Bilik Cinta Muhammad yang telah behasil penulis buku salin (terjemah) kedalam bahasa Indonesia yang dramatis dan puitis.

Membaca kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini, menyadarkan kita pada keagungan Allah Swt. Allah tidak pernah membedakan antara makhluk-Nya yang iman dan yang ingkar semua tetap mendapat nikmatnya, serta makhluk-nya yang selalu berbuat maksiat senantiasa mendapat ampunannya, asal mereka mau bertobat. Sebagaimana firman-nya dalam surah al-Baqarah ayat 222. “Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mereka yang membersihkan diri”Dari ayat ini jelas bahwa Allah cinta pada hambanya yang mengakui kesalahannya, lantas bertobat.

Dalam sebuah hadist qudsi Rasulullah juga pernah bersabda “Allah bahagia menyambut tobat hamba-Nya melebihi bahagianya salah seorang kalian ketika berada di padang lepas, unta tunggangannya hilang bersama seluruh muatan bekal makanan dan minuman, lalu setelah putus asa dan berbaring dibawah rindang sebatang pohon, tiba-tiba unta itu berdiri tepat di hadapannya, dan dengan cepat ia melompat memegangi tali kekangnya. Saking bahagianya sampai-sampai Allah berseru, “Oh, engkau tuhanku dan aku hambamu. Eh, Aku sampai keliru saking bahagia-Ku. (hal. 25)

Pada halaman 48 dalam buku Ini dikisahkan bahwa pernah ada seorang pria Bani Israil bergelimangan maksiat selama 20 tahun. Padahal 20 tahun sebelumnya itu berlaku taat. Sampai suatu hari ia berdiri di depan cermin dan melihat jenggotnya sudah memutih. Kemudian ia berucap “Tuhanku, sudah dua puluh tahun aku bergelimangan maksiat. Jika aku kembali kepada-Mu, tolong terimalah aku!”. Tiba-tiba ia mendengar suara. “Telah kuasingkan dirimu dari-Ku maka Kuasingkan diri-Ku darimu. Telah kautinggalkan Aku maka Kutinggalkan dirimu. Kau telah maksiat kepada-Ku, tapi Kubiarkan dirimu. Maka jika kau kembali kepada-Ku, Aku pun menerimamu”.

Imam Al-Gazali berkata dalam Ihya’ Ulum al-Din, “Jika ada yang melampaui batas dalam kemaksiatan, lalu mengangkat tangan dan berdoa, Duh Tuhanku,’ maka suaranya akan ditutup oleh malaikat dari pertama..kedua..ketiga..sampai keempat. Kemudian Allah menegur, ‘Sampai kapan kau akan menutup suara hamba-Ku. Dia tahu tak ada yang bisa mengampuni dosa selain Aku. Maka saksikanlah, wahai malaikat-malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuninya. (hal.49)

Buku ini sangat layak dan cocok di konsumsi oleh kalangan umat islam, terlebih bagi mereka yang putus asa akan rahmat Allah karena saking banyakya mengerjakan maksiat. Tapi kendatipun tobat itu gampang, sebagaimana yang terdapat dalam kisah-kisah dalam buku ini, perlu disampaikan kembali perkataan penulis buku dalam sebuah kata pengantarnya bahwa: “Yang jelas, tak satu pun, kisah dalam buku ini yang merekomendasi pembaca baik secara tersurat maupun tersirat untuk melakukan dosa dan maksiat”.

Peresens: Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo


 dimuat di wasathon.com 08 February 2014